
10 Game PC Terburuk 2025
Tahun 2025 seharusnya jadi tahunnya PC gaming bersinar. Teknologi makin matang, engine makin canggih, dan hardware PC makin beragam. Tapi kenyataannya? Tidak semua game ikut naik level.
Alih-alih jadi perayaan kreativitas dan inovasi, sebagian game PC di 2025 justru menjadi contoh nyata bahwa hype, IP besar, dan trailer sinematik tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas pengalaman bermain.
Artikel ini merangkum 10 game PC paling mengecewakan di 2025, berdasarkan gabungan:
- ulasan media,
- kritik kreator YouTube,
- diskusi komunitas Reddit,
- serta yang paling jujur dan brutal: review pengguna di Steam.
Bukan untuk sekadar mencaci, tapi untuk melihat pola kegagalan yang terus berulang.

1. MindsEye
Game yang Mengajarkan Arti “Rilis Terlalu Cepat”
Jika ada satu game yang hampir selalu muncul di daftar “terburuk 2025”, MindsEye adalah jawabannya.
Masalahnya bukan satu atau dua bug kecil. Yang terjadi adalah kombinasi dari hampir semua kesalahan klasik:
- performa buruk di berbagai spesifikasi PC,
- bug yang memengaruhi progres,
- AI musuh yang tidak konsisten,
- dan desain gameplay yang terasa belum selesai.
Banyak pemain merasa game ini dirilis dalam kondisi yang lebih cocok disebut late alpha ketimbang versi final. Di Steam, keluhan yang muncul bukan lagi soal selera, tapi soal fungsi dasar game.
MindsEye jadi contoh paling jelas bahwa QA dan waktu pengembangan masih sering dikorbankan demi mengejar tanggal rilis.
2. Call of Duty: Black Ops 7
Ketika Nama Besar Justru Jadi Beban
Call of Duty selalu datang dengan ekspektasi tinggi. Tapi Black Ops 7 membuktikan bahwa nama besar tidak kebal dari kritik—terutama di PC.
Masalah utama yang disorot komunitas:
- stutter dan frame pacing buruk,
- crash yang masih muncul bahkan setelah beberapa patch,
- keputusan desain multiplayer yang memecah komunitas lama.
Yang bikin kekecewaan terasa lebih dalam adalah satu hal: seharusnya mereka tahu lebih baik. Dengan pengalaman bertahun-tahun di PC, kegagalan teknis seperti ini terasa tidak lagi bisa dimaklumi.
Banyak pemain tidak menyebut Black Ops 7 sebagai game jelek, tapi sebagai game yang gagal memenuhi standar yang ia tetapkan sendiri.

3. Spy Drops
Stealth Tanpa Ketegangan
Spy Drops ingin menjual pengalaman stealth-action modern. Masalahnya, eksekusinya terasa datar.
Beberapa kritik utama dari pemain PC:
- AI musuh terlalu mudah dimanipulasi,
- level design minim variasi,
- dan sistem stealth yang kurang memberi ruang eksperimen.
Alih-alih menegangkan, gameplay-nya justru terasa mekanis dan repetitif. Banyak pemain menyebut Spy Drops sebagai game yang “berfungsi”, tapi tidak meninggalkan kesan apa pun.
Dalam genre stealth, itu hampir sama buruknya dengan gagal total.
4. Captain Blood
Terjebak di Masa Lalu
Captain Blood terasa seperti game yang lahir di waktu yang salah.
Animasi kaku, combat repetitif, dan sistem progresi yang minim inovasi membuat game ini terasa usang sejak hari pertama. Bukan karena ingin retro, tapi karena tidak ada modernisasi berarti.
Di PC, masalah makin terasa dengan kontrol yang kurang presisi dan UI yang tidak ramah mouse-keyboard.
Banyak pemain berkomentar bahwa Captain Blood bukan game yang rusak—tapi game yang tidak relevan dengan standar 2025.

5. Lost Soul Aside
Keren di Layar, Dangkal di Dalam
Lost Soul Aside sempat mencuri perhatian lewat visual stylish dan combat cepat. Tapi setelah beberapa jam bermain, banyak pemain mulai merasakan masalah yang sama: kedalaman gameplay yang terbatas.
Keluhan yang sering muncul:
- variasi musuh minim,
- combat terlalu bergantung pada efek visual,
- progresi karakter kurang terasa signifikan.
Game ini tidak benar-benar buruk. Tapi ekspektasi yang dibangun terlalu tinggi dibandingkan apa yang akhirnya diberikan. Di PC, performa yang tidak konsisten semakin mempertegas rasa “setengah jadi”.

6. Hunter x Hunter: Nen x Impact
IP Besar, Fondasi Rapuh
Mengadaptasi anime sebesar Hunter x Hunter selalu berisiko. Nen x Impact sayangnya tidak berhasil mengatasi risiko itu.
Masalah yang paling sering dibahas pemain PC:
- server online tidak stabil,
- balancing karakter bermasalah,
- konten terasa minim untuk ukuran fighting game modern.
Bagi fans anime, game ini terasa kurang menghormati potensinya. Bagi fans fighting game, mekaniknya belum cukup solid untuk kompetisi jangka panjang.
Hasilnya: dua komunitas sama-sama kecewa.

7. Star Wars Episode I: Jedi Power Battles Remaster
Remaster Tanpa Evolusi
Remaster seharusnya memperbaiki masa lalu. Tapi Jedi Power Battles Remaster justru mempertahankan hampir semua masalah klasiknya.
Kontrol tetap kaku, kamera sering melawan pemain, dan peningkatan kualitas hidup hampir tidak terasa. Di PC, isu ini makin terasa karena ekspektasi pemain terhadap kontrol presisi jauh lebih tinggi.
Banyak yang mempertanyakan alasan remaster ini dibuat, selain sekadar memanfaatkan nostalgia.

8. Sand
Early Access yang Terlalu Mentah
Early Access bukan alasan untuk membingungkan pemain.
Sand dikritik karena:
- minim tutorial,
- sistem inti tidak dijelaskan dengan baik,
- UI yang sulit dipahami.
Pemain baru sering merasa tersesat tanpa arah jelas. Komunitas PC umumnya cukup toleran terhadap game yang berkembang, tapi tetap ada batas. Dan Sand, menurut banyak review, melewati batas itu.

9. Fast & Furious: Arcade Edition
Nama Besar, Isi Kosong
Fast & Furious identik dengan kecepatan dan adrenalin. Arcade Edition di PC gagal menyampaikan keduanya.
Masalah yang sering disorot:
- kontrol aneh,
- fisika kendaraan tidak konsisten,
- konten sangat terbatas.
Sebagai port PC, kualitasnya terasa seadanya. Banyak pemain menyebut game ini lebih cocok jadi mesin arcade, bukan pengalaman PC penuh.
10. Bubsy in: The Purrfect Collection
Nostalgia yang Tidak Diminta
Bubsy adalah nama yang sudah lama jadi lelucon di dunia gaming. Sayangnya, The Purrfect Collection tidak mengubah persepsi itu.
Desain level ketinggalan zaman, humor tidak relevan, dan gameplay yang terasa kaku membuat game ini sulit direkomendasikan—bahkan untuk penggemar nostalgia.
Tidak semua warisan perlu dibangkitkan kembali.
Pola Besar: Kenapa Banyak Game PC Gagal di 2025?
Dari sepuluh game di atas, pola yang muncul cukup konsisten:
- Rilis terlalu dini
- Optimisasi PC jadi prioritas kedua
- Visual lebih diutamakan daripada sistem
- Patch dijadikan alasan, bukan solusi
PC gamer bukan anti-bug. Tapi mereka menuntut satu hal sederhana: pengalaman yang jujur dan fungsional saat rilis.
Penutup: PC Gamer Bukan Beta Tester Gratis
Tahun 2025 membuktikan satu hal penting: skala besar tidak menjamin kualitas. IP kuat tidak menjamin kesuksesan. Dan hype, tanpa fondasi teknis yang kuat, hanya akan mempercepat kekecewaan.
Daftar ini bukan ajakan untuk membenci. Tapi pengingat bahwa PC gaming punya standar tinggi—dan komunitasnya tidak ragu menyuarakan kritik.
Semoga 2026 lebih bijak. Lebih siap. Dan lebih menghargai pemain.
Related Articles

Liberty Walk x Original Konbini OK-1, Keyboard JDM dengan Bodi Aluminium dan VIA
Kolaborasi antara brand otomotif dengan peripheral gaming sebenarnya bukan hal baru. Namun, Liberty Walk x Original Konbini OK-1 punya pendekatan yang...

DLSS 5 Review: Visual Lebih Realistis, Tapi Performa Turun Drastis
DLSS selama ini identik dengan satu hal: performa. Entah lewat Super Resolution, Frame Generation, atau Multi Frame Generation, teknologi DLSS biasany...

Apa Itu TTK di Game Shooter? Kenapa Ada Game yang Musuhnya Cepat Mati dan Ada yang Tebal Banget?
Kalau sering main game shooter, kamu pasti pernah ngerasain dua pengalaman ekstrem ini.Di satu game, baru nongol sedikit dari tembok langsung kena hea...

The Blood of Dawnwalker Review: RPG Vampir Mirip The Witcher 3
The Blood of Dawnwalker langsung menarik perhatian sejak pertama kali diumumkan. Alasannya simpel: game ini datang dari Rebel Wolves, studio baru yang...