
Awal dari Kematian 2XKO: Fighting Game League of Legends
Kabar kurang enak datang dari Riot Games. 2XKO, fighting game berbasis universe League of Legends, resmi akan dihentikan pengembangan aktifnya pada akhir 2026.
Server online masih akan tetap hidup, dan game-nya juga masih bisa dimainkan offline. Tapi setelah 2026 berakhir, jangan berharap ada update besar, roadmap panjang, atau dorongan konten aktif seperti game live-service Riot lainnya.
Dengan kata lain, 2XKO belum langsung mati total, tapi masa depannya sudah ditutup.
Ini cukup mengejutkan, apalagi game ini baru masuk full release pada Januari 2026. Tapi kalau melihat tanda-tandanya, keputusan ini sebenarnya sudah mulai terasa sejak beberapa bulan lalu.
Player Datang, Tapi Ga Banyak yang Bertahan
Menurut Riot, masalah utama 2XKO bukan karena tidak ada orang yang mencoba gamenya. Banyak pemain sempat masuk, komunitas intinya juga ada, dan masih ada pemain yang aktif setiap hari.
Masalahnya: retention-nya tidak cukup kuat.
Riot menyebut mereka sudah memantau perkembangan 2XKO selama beberapa bulan terakhir. Hasilnya menunjukkan pola yang konsisten. Banyak orang mencoba, tapi tidak cukup banyak yang bertahan untuk membuat game ini punya jalur yang berkelanjutan.
Ini masalah klasik live-service game. Launch ramai itu bagus, tapi yang lebih penting adalah berapa banyak pemain yang tetap main setelah hype awal turun.
Dalam kasus 2XKO, angka itu tampaknya tidak cukup buat membenarkan pengembangan jangka panjang dengan tim besar.

Layoff Sudah Jadi Sinyal Bahaya
Sekitar enam bulan sebelum pengumuman ini, Riot sudah melakukan pemangkasan tim 2XKO. Sekitar 80 developer terkena layoff karena momentum game dianggap belum mencapai level yang dibutuhkan untuk mendukung tim sebesar itu dalam jangka panjang.
Saat itu, Riot masih bilang mereka tetap berkomitmen pada 2XKO. Tapi sekarang, keputusan akhirnya jauh lebih jelas: pengembangan aktif akan selesai pada akhir 2026.
Jadi kalau ditarik mundur, layoff itu bukan cuma restrukturisasi biasa. Itu adalah tanda bahwa Riot sudah mulai mempertanyakan apakah 2XKO bisa bertahan sebagai proyek besar.
Masih Ada Konten Baru Sampai Akhir Tahun
Walau pengembangan aktifnya dihentikan, Riot tidak langsung meninggalkan pemain begitu saja.
Sepanjang sisa 2026, 2XKO masih akan mendapat konten baru. Riot menyebut akan ada:
- Dua fighter baru
- Bug fix
- Feature improvement
- Patch bug fix terakhir pada Desember
- Semua fighter akan dibuka untuk pemain
- Uang yang sudah dibelanjakan sampai 20 Agustus akan dikembalikan
Bagian refund ini cukup penting. Riot tampaknya ingin memastikan pemain yang sudah keluar uang tidak merasa benar-benar ditinggal begitu saja.
Ini semacam soft landing. Game-nya tidak langsung dicabut, tapi Riot juga sudah jujur bahwa perjalanan aktif 2XKO berhenti di sini.
Kenapa Game Fighting League of Legends Bisa Gagal?
Di atas kertas, 2XKO terdengar seperti ide yang sangat masuk akal.
League of Legends punya karakter ikonik, fanbase besar, dan lore yang cukup kaya. Bikin fighting game dari champion LoL harusnya bisa jadi proyek yang gampang dijual.
Tapi kenyataannya, fighting game bukan genre yang mudah.
2XKO dibangun sebagai 2v2 assist fighter, bukan fighting game 1v1 standar. Artinya, dari awal game ini sudah punya sistem yang lebih spesifik. Buat pemain tag fighter hardcore, konsep seperti ini bisa sangat menarik. Tapi buat pemain fighting game biasa, learning curve dan kompleksitasnya bisa terasa lebih berat.
Riot sendiri mengakui bahwa pemain tag fighter diehard menyukai 2XKO. Masalahnya, banyak pemain fighting game lain tidak menemukan cukup alasan untuk tetap bertahan.
Ini poin yang cukup menyakitkan. Game-nya mungkin disukai niche tertentu, tapi tidak cukup luas untuk jadi proyek live-service besar ala Riot.

Fighting Game Itu Kejam Buat Pemain Baru
Satu hal yang sering dilupakan: fighting game punya barrier masuk yang tinggi.
Buat pemain baru, kalah di fighting game terasa sangat personal. Di game team-based seperti League of Legends atau Valorant, pemain bisa menyalahkan tim, role, map, agent, atau banyak faktor lain. Tapi di fighting game, saat kalah, rasanya benar-benar kamu yang dihajar.
2XKO mencoba membuat fighting game lebih ramah dengan format duo, sistem assist, dan pendekatan yang lebih sosial. Tapi tetap saja, genre ini menuntut latihan, matchup knowledge, timing, execution, dan mental kuat.
Banyak pemain mungkin mencoba karena ini game Riot dan ada karakter LoL. Tapi begitu mereka masuk dan sadar bahwa ini tetap fighting game serius, sebagian besar mungkin tidak lanjut.
Riot Mungkin Berharap Terlalu Banyak
Riot bukan studio kecil. Mereka punya standar tinggi untuk game live-service. League of Legends, Valorant, Teamfight Tactics, dan Wild Rift semuanya dibangun untuk skala besar.
Masalahnya, fighting game punya ukuran pasar dan perilaku pemain yang beda.
Komunitas fighting game memang passionate banget, tapi tidak selalu sebesar pasar shooter, MOBA, atau battle royale. Kalau Riot masuk dengan ekspektasi live-service besar, 2XKO harus punya retention dan engagement yang sangat kuat.
Dan dari pengakuan Riot sendiri, itu tidak terjadi.
Mereka bilang usaha sepanjang paruh pertama 2026 mendapat respons baik, tapi tidak menghasilkan perubahan signifikan yang berkelanjutan. Angkanya hanya sebagian kecil dari yang dibutuhkan untuk menuju sustainability.
Kalimat bisnisnya halus. Tapi artinya jelas: game ini tidak cukup ramai untuk lanjut.
Perjalanan 2XKO Sudah Panjang Banget
2XKO bukan proyek dadakan.
Spekulasi Riot mengerjakan fighting game sudah muncul sejak sekitar 2017. Game ini kemudian dikonfirmasi secara resmi pada 2019, saat masih dikenal sebagai Project L.
Setelah bertahun-tahun iterasi, game ini akhirnya mendapat nama resmi 2XKO dan dirilis penuh pada Januari 2026.
Dengan waktu pengembangan selama itu, jelas Riot sudah menginvestasikan banyak uang, tenaga, dan ekspektasi. Jadi keputusan untuk menghentikan pengembangan aktif pasti bukan keputusan kecil.
Justru karena proyek ini begitu lama dibangun, ending seperti ini terasa makin pahit.

Bukan Mati Total, Tapi Masa Depannya Selesai
Penting untuk dicatat, Riot tidak langsung mematikan server 2XKO.
Mode online masih tersedia. Game juga masih bisa dimainkan offline. Jadi pemain yang suka 2XKO tetap bisa menikmatinya, setidaknya untuk sementara.
Tapi tanpa pengembangan aktif, game fighting live-service akan sulit tumbuh. Tidak ada karakter baru rutin, balance patch besar, event panjang, atau ekosistem kompetitif yang terus didorong studio.
Buat komunitas fighting game, ini berarti 2XKO mungkin akan berubah dari “game masa depan Riot” menjadi game niche yang bertahan karena komunitas kecilnya masih sayang.
Dampaknya Buat FGC
Riot juga menyebut mereka masih mencari cara untuk membantu pemain, tournament organizer, competitor, dan creator yang selama ini mendukung 2XKO di komunitas fighting game.
Ini penting karena FGC hidup dari komunitas. Turnamen lokal, creator, lab monster, pemain kompetitif, dan komunitas kecil sering jadi nyawa game fighting jauh setelah hype launch selesai.
Tapi tetap saja, tanpa dukungan aktif developer, masa depan kompetitif 2XKO akan jauh lebih berat.
Game fighting bisa bertahan lama karena komunitas, benar. Tapi untuk game modern yang dirancang sebagai live-service, dukungan developer tetap punya peran besar.
Pelajaran Besar: IP Besar Ga Selalu Cukup
Kasus 2XKO jadi pengingat bahwa IP besar tidak otomatis menjamin sukses.
League of Legends adalah salah satu nama terbesar di game modern. Champion-nya terkenal, fanbase-nya besar, dan Riot punya pengalaman mengurus game kompetitif.
Tapi fighting game punya tantangan sendiri.
Kamu bisa punya Ahri, Yasuo, Ekko, Darius, atau Jinx dalam roster. Kamu bisa punya visual keren dan netcode bagus. Tapi kalau pemain tidak punya alasan kuat untuk balik setiap hari atau setiap minggu, live-service tetap susah hidup.
2XKO membuktikan bahwa brand besar bisa membawa orang masuk. Tapi gameplay loop dan ekosistem harus cukup kuat untuk membuat mereka tinggal.

Kesimpulan
Riot menghentikan pengembangan aktif 2XKO pada akhir 2026 karena game ini tidak berhasil mencapai jalur yang berkelanjutan. Banyak pemain sempat mencoba, komunitas intinya tetap ada, tapi retention-nya tidak cukup kuat untuk mendukung masa depan jangka panjang.
Ini bukan shutdown langsung. Server online masih hidup, offline masih bisa dimainkan, konten baru masih akan datang sampai akhir tahun, dua fighter baru masih disiapkan, semua fighter akan dibuka, dan pembelian sampai 20 Agustus akan direfund.
Tapi tetap saja, pesannya jelas: ambisi besar Riot di genre fighting game berhenti di sini.
2XKO adalah ide yang keren. Fighting game League of Legends harusnya terdengar seperti combo yang kuat. Tapi ternyata, genre ini lebih sulit ditaklukkan dari yang terlihat.
Buat pemain yang sudah suka, kabar ini jelas nyesek. Buat industri game, ini jadi contoh lagi bahwa live-service bukan cuma soal launch besar, IP populer, dan trailer hype.
Yang paling penting adalah satu hal sederhana tapi brutal: pemain harus mau terus balik.
Dan untuk 2XKO, jumlah pemain yang balik ternyata belum cukup.
Related Articles

Sennheiser Momentum True Wireless 5: TWS yang Baterainya Bisa Diganti Sendiri
Sennheiser resmi memperkenalkan Momentum True Wireless 5, earbuds flagship terbaru yang membawa banyak upgrade besar. Bukan cuma soal suara, ANC, atau...

Keychron V6 Ultra Hybrid: Keyboard Mecha+Magnetic tapi Ukurannya Full-size
Keychron kembali bikin kejutan di dunia keyboard. Setelah sempat menggoda publik dengan V6 Ultra Hybrid, sekarang keyboard wireless hybrid ini resmi m...

Moondrop Chu 3: IEM Murah Meriah dengan Driver Baru dan Shell Zinc-Alloy
Moondrop akhirnya meluncurkan Moondrop Chu 3, generasi terbaru dari seri Chu yang selama ini jadi salah satu nama paling populer di kelas IEM entry-le...

Keyboard Wireless SteelSeries Mahal Jadi Korban Baterai Bengkak
Keyboard wireless mekanikal memang terdengar enak banget. Bisa tetap dapat feel khas mechanical keyboard, tapi meja lebih rapi dan posisi lebih bebas ...