
Dying Light: The Beast Review: Lebih Brutal, Lebih Chaos
Ada kalanya developer butuh waktu untuk ngaku kalau mereka sempat salah arah — dan Techland baru aja ngebuktiin itu lewat Dying Light: The Beast. Setelah Stay Human dapet respon campur aduk dan bikin banyak fans kecewa, akhirnya The Beast datang kayak penebusan dosa yang udah lama ditunggu.
Game ini nggak cuma bawa balik semua hal yang dulu bikin Dying Light pertama jadi legenda — mulai dari parkour yang lincah, malam yang bikin ngeri, sampai kembalinya sang protagonis Kyle Crane — tapi juga berani ngasih sentuhan baru lewat transformasi brutal: The Beast Mode.
Hasilnya? Sebuah game zombie open-world yang terasa lebih jujur, lebih fokus, dan (akhirnya) lebih seru lagi buat ditelusuri di bawah sinar bulan yang temaram.
Baliknya Sang Legenda Zombie
Buat banyak gamer, Dying Light pertama adalah salah satu game zombie open-world terbaik yang pernah ada. Entah gimana caranya, semua elemen di game itu pas banget — parkour yang adiktif, dunia yang hidup (dan mati), serta sensasi malam yang benar-benar bikin jantung deg-degan.
Tapi waktu Techland ngerilis sekuelnya di tahun 2022, Dying Light 2: Stay Human, hasilnya nggak segemilang harapan. Bukan berarti jelek, tapi game itu kehilangan “jiwa” yang bikin seri pertamanya begitu spesial. Banyak perubahan yang terasa aneh, malah bikin gameplay kehilangan identitasnya. Beberapa tahun terakhir, Techland berusaha keras memperbaikinya lewat update — mulai dari bikin malam lebih berbahaya sampai nambahin senjata api. Tapi hasilnya? Ya... kayak nambahin topping ke kue yang resep dasarnya udah gagal. Enak sih, tapi nggak signifikan.
Nah, Dying Light: The Beast datang sebagai jawaban dari semua kritik itu. Kali ini, Techland kayaknya benar-benar pengin “menebus dosa” masa lalu. Mereka bawa kembali semua elemen yang bikin fans jatuh cinta sama game pertama. Termasuk hal paling penting: kembalinya Kyle Crane, sang protagonis ikonik, yang lagi-lagi disuarakan oleh Roger Craig Smith — suara di balik Chris Redfield dan Sonic the Hedgehog.
Volatile balik, senjata api balik, sistem parkour lebih realistis, bahkan kendaraan juga muncul lagi. Tapi yang paling penting: ceritanya lebih fokus dan linear, bukan open-world yang kebanyakan hal tapi minim arah kayak sebelumnya. Intinya, The Beast benar-benar memposisikan diri sebagai “sequel sejati” dari game original dan ekspansi legendarisnya, The Following.
Tapi tentu aja, pertanyaan besarnya:
Apakah Techland berhasil menebus kesalahan masa lalu mereka? Atau The Beast cuma jadi tempelan besar yang masih dibangun di atas fondasi rapuh Dying Light 2?
Cerita, Setting, dan Kembalinya Kyle Crane
Jujur aja, Dying Light bukan seri yang dikenal karena plot yang rumit atau penuh intrik politik kayak The Last of Us atau Days Gone. Tapi yang bikin seri ini spesial selalu ada di atmosfer dan gaya berceritanya yang bikin kita terus main. Untungnya, The Beast sadar betul soal itu.
Di sini, Kyle Crane akhirnya balik setelah bertahun-tahun dianggap “hilang.” Diceritakan, Crane sempat ditangkap dan dijadikan bahan eksperimen oleh seorang ilmuwan gila sekaligus villain bergaya Euro villain klasik, bernama The Baron — ya, lengkap dengan turtleneck dan aksen khas film spionase. Akibat percobaan itu, Crane berubah jadi setengah manusia, setengah monster, alias The Beast.
Transformasi ini bukan cuma gimmick. Waktu garis merah di bawah health bar penuh, Crane bisa berubah jadi makhluk super kuat yang bisa nyabik-nyabik zombie tanpa ampun selama beberapa detik. Bayangin aja gabungan antara Hulk, Sonic Werehog, dan GGS (Ganteng-Ganteng Serigala, bukan Good Gaming Shop, ya! Wkwkwkwk) — semua digabung dalam satu tubuh. Tapi Techland pinter: kekuatan ini nggak bisa dipakai sembarangan. Di awal game, kemampuannya dibatasi oleh progres cerita, jadi nggak ada tuh yang bisa spam mode Beast seenaknya.
Yang menarik, meski ceritanya sederhana — tentang balas dendam dan kebebasan — pacing-nya jauh lebih baik dari Dying Light 2. Nggak ada lagi drama politik aneh atau karakter sok misterius yang ujung-ujungnya nusuk dari belakang. Cerita di The Beast sederhana, to the point, dan fokus pada satu hal: membuat lo merasa keren saat bertahan hidup di dunia zombie.
Castor Woods: Dunia yang Lebih Padat tapi Intim
Latar game kali ini, Castor Woods, terasa seperti “The Following” versi modern. Sebuah desa pegunungan indah di Swiss Alps yang kini berubah jadi mimpi buruk penuh kabut dan Volatile yang kelaparan. Techland berhasil menciptakan dunia yang lebih kecil tapi lebih hidup. Nggak sebesar map di Dying Light 2, tapi justru itu kelebihannya — lebih padat, lebih efisien, dan lebih gampang dihafal tanpa ngebosenin.
Kota utamanya dirancang dengan cerdas: penuh bangunan vertikal yang bisa dijelajahi lewat parkour, banyak interior yang bisa dimasukin, dan suasana malam yang bikin lo ngeri cuma dari suara langkah di atap.
Sedangkan area pedesaan di luar kota bisa dieksplor dengan kendaraan — iya, mobil balik lagi, tapi bukan kayak sistem “customizable buggy” di The Following. Sekarang lo bisa nyolong kendaraan yang ada di map, tapi hati-hati, bensin terbatas dan mobil bisa rusak. Simpel, tapi efektif. Dan lebih cocok buat pacing game ini yang cepat dan agresif.
Bisa dibilang, The Beast nemuin balance yang dulu sempat hilang. Dunia yang cukup besar buat bikin lo pengen menjelajah, tapi cukup kecil buat tetap terasa intim dan menegangkan — apalagi saat malam tiba.
Gameplay, Parkour, dan Kembalinya Teror Malam
Salah satu hal yang bikin Dying Light pertama begitu dicintai adalah sensasi parkour-nya yang “berat tapi mulus” — setiap lompatan punya risiko, setiap langkah di tepi gedung bikin tangan lo keringetan. Nah, Dying Light 2 sempat kehilangan itu. Parkour-nya terlalu floaty, terlalu ringan, sampai kehilangan rasa tegangnya.
Untungnya, The Beast berhasil nemuin kembali “feel” khas Dying Light yang dulu. Gerakan karakter terasa lebih berat, tapi juga lebih terkendali. Setiap panjatan, lompatan, atau ayunan terasa punya bobot dan momentum yang pas. Lo bakal ngerasa lebih hati-hati waktu parkour, tapi justru itu yang bikin seru — karena setiap gerakan terasa penting.
Sementara di sisi combat, sistemnya masih familiar buat yang main Dying Light 2, tapi lebih disempurnakan. Mekanik dasarnya sama: tebas, tendang, lempar bom molotov, dan crafting alat bantu dari bahan yang lo temuin di dunia. Tapi sekarang, semuanya terasa lebih “kasar” dan brutal — apalagi kalau lo udah unlock Beast Mode.
Beast Mode: Rasa Baru Tapi Ga OP
Awalnya banyak yang khawatir fitur Beast Mode bakal bikin game ini terlalu mudah — semacam cheat mode untuk ngelibas semua zombie. Tapi Techland ternyata cukup pintar ngatur ritmenya. Mode ini nggak bisa diaktifin kapan aja, karena lo harus ngisi meteran rage dengan cara mukulin zombie atau kena damage dulu. Begitu penuh, lo bakal otomatis berubah jadi makhluk buas super kuat selama beberapa detik aja.
Selama mode ini aktif, lo bakal ngerasain sensasi “balas dendam” yang satisfying banget — bisa ngebanting zombie, ngeremukin kepala musuh, dan literally jadi mesin pembunuh. Tapi karena durasinya terbatas dan nggak bisa diaktifin manual di awal game, lo tetap harus mikir strategis. Belakangan, pas kemampuan lo makin berkembang, baru bisa diaktifin manual. Tapi bahkan di titik itu, kekuatannya masih dijaga biar nggak terlalu overpowered.
Intinya, Beast Mode bukan sekadar gimmick — dia bagian penting dari identitas gameplay baru Dying Light. Power fantasy yang tetap punya batas.
Kengerian Malam: Dying Light Balik ke Selera Awal
Kalau ngomongin Dying Light, satu hal yang wajib disebut adalah malam. Malam di game pertamanya bukan cuma soal waktu, tapi juga soal ketakutan. Lo bakal ngerasa dikejar, diburu, dan nggak punya tempat aman. Dan anehnya, Dying Light 2 justru ngebuang elemen itu — malam di sana lebih terang, lebih aman, dan kehilangan atmosfer “survival horror”-nya.
Untungnya, The Beast balikin itu semua. Begitu matahari terbenam di Castor Woods, lo langsung ngerasain teror yang nyata. Volatile bakal patroli di jalan, siap ngejar lo tanpa ampun kalau ketahuan. Nggak ada gunanya ngelawan — mereka terlalu kuat dan jumlahnya terlalu banyak. Satu-satunya pilihan cuma satu: lari secepat mungkin ke zona aman.
Dan di sinilah keindahan desain The Beast: game ini akhirnya ngerti kalau “malam berbahaya” itu bukan kelemahan, tapi identitas. Lo bisa dapet XP dua kali lipat kalau berani keluar malam, tapi risikonya juga gila-gilaan. Kadang lo bisa dapet loot langka, tapi bisa juga mati cuma karena salah satu langkah.
Nggak ada indikator “vision cone” di UI kayak di Dying Light 2, jadi lo harus bener-bener ngandelin insting dan suara langkah buat tahu posisi musuh. Kadang lo bakal nyelonong masuk ke jalur patroli Volatile tanpa sadar — dan hasilnya? Pengejaran panik yang bikin jantung copot.
Itu dia Dying Light yang kita kenal — bukan cuma game zombie, tapi simulasi adrenalin.
Chapter 4: Combat, Crafting, dan Sadisnya Dunia The Beast
Kalau ngomongin Dying Light, nggak lengkap tanpa bahas combat-nya. Di The Beast, sistem pertarungan masih mempertahankan inti dari seri sebelumnya — fokus ke melee combat brutal, dengan tambahan elemen baru yang bikin tiap perkelahian terasa lebih hidup (dan lebih berdarah).
Melee dan Senjata Api: Brutal tapi Tetap Seimbang
Senjata jarak dekat masih jadi bintang utama. Lo bisa ngandelin kapak, pipa, pedang, bahkan parang buatan tangan buat ngelawan gerombolan zombie. Sensasinya berat dan satisfying — setiap tebasan punya impact, dan animasi kill-nya benar-benar bikin lo mikir dua kali sebelum makan sambil main.
Tapi kali ini, senjata api balik juga — dan eksekusinya jauh lebih matang. Lo bisa dapet pistol, shotgun, atau rifle, tapi semua dibatasi oleh satu hal penting: peluru. Ammunisi di game ini super langka, dan kadang nggak sebanding sama jumlah musuh yang harus lo lawan. Jadi, senjata api bukan tombol “I win”, tapi alat bantu buat situasi darurat. Ketika lo lagi dikepung atau berhadapan sama pasukan manusia milik Baron, pistol bisa jadi penyelamat nyawa. Tapi begitu peluru habis, ya siap-siap kembali ke parang karatan.
Keseimbangan ini bikin tiap pertarungan punya ketegangan tersendiri. Lo nggak pernah bisa santai. Lo harus pilih kapan mau nyerang, kapan kabur, dan kapan ngeluarin semua granat yang udah lo craft dengan susah payah.
Crafting System: Masih Ribet, Tapi Penting
Nah, bagian ini mungkin bakal sedikit nyebelin buat beberapa pemain lama. Sistem crafting-nya masih mirip kayak Dying Light 2 — ribet dan boros bahan.
Setiap item, entah itu granat, medkit, atau senjata baru, butuh banyak banget material. Kadang lo harus ngerampok setengah desa cuma buat bikin satu alat peledak.
Buat yang senang eksplorasi, hal ini masih oke, karena lo bakal terus dapat alasan buat menjelajah setiap sudut dunia. Tapi buat yang pengen pacing cepat dan langsung ke action, sistem ini bisa berasa bikin males. Dan sayangnya, banyak senjata atau item keren yang cuma bisa didapet lewat crafting, bukan looting biasa. Jadi suka nggak suka, lo tetap harus rajin jadi tukang rongsok apocalypse.
Boss Fight: Chimera yang Gagah tapi Tanggung
Salah satu tambahan besar di The Beast adalah musuh bernama Chimera. Ini bukan zombie biasa — mereka adalah hasil eksperimen gagal Baron, dan jadi semacam mini-boss yang unik tiap kali lo temuin. Desain mereka keren banget: grotesque, aneh, dan berbahaya. Tiap Chimera punya gaya bertarung dan kemampuan khusus sendiri, dan lo harus ngalahin mereka buat ngembangin kekuatan Beast Mode.
Masalahnya? HP mereka minta ampun tebelnya. Butuh waktu lama banget buat ngebunuh satu, dan sering kali pertarungannya terasa lebih melelahkan daripada menegangkan. Nggak jelek, tapi juga nggak memorable. Idenya bagus, eksekusinya setengah matang.
Gore System: Sadisnya Nggak Main-Main
Kalau ada satu hal yang The Beast lakukan tanpa kompromi, itu adalah kekerasan visualnya. Game ini brutal — bahkan dibanding Dead Island 2, The Beast bisa dibilang lebih kejam. Lo bisa mecahin kepala zombie, ngebelah badan mereka, sampai ngelakuin finishing moves yang bikin lo refleks bilang “anjir.”
Kill animation-nya detail banget, lengkap dengan efek darah yang nyiprat ke layar.
Kalau lo suka game dengan sensasi combat yang kasar dan visceral, ini surganya. Tapi buat yang gampang mual, ya... mungkin ini bukan tontonan yang nyaman.
Dan walaupun sistem gore-nya bukan yang paling realistis di genre zombie, cara The Beast menggabungkan kekerasan itu dengan gameplay-nya bikin tiap pertempuran terasa personal — kayak lo benar-benar berjuang buat hidup.
Kesimpulan: Penebusan Dosa yang Nyaris Sempurna
Kalau ngomongin Dying Light: The Beast, sulit buat nggak ngasih apresiasi ke bagaimana Techland akhirnya “balik ke jalur yang benar.” Tapi sebelum sampai ke kesimpulan, mari bahas dulu bagian yang paling sering jadi perdebatan di game open-world: visual dan performa.
Visual: Cantik Tapi Masih Agak Brewokan
Secara teknis, The Beast kelihatan jauh lebih matang dari Dying Light 2. Pencahayaan malamnya keren banget — kabut yang turun di Castor Woods bikin suasana mencekam, apalagi kalau lo ngeliat siluet Volatile lagi jalan di kejauhan. Area kota dan desa pegunungan juga punya kontras yang cantik: siang terlihat damai, malam berubah jadi neraka.
Tapi walaupun visualnya naik kelas, masih ada satu hal yang nggak hilang: efek “blur” khas Dying Light. Ada semacam filter lembut di seluruh layar yang bikin beberapa bagian kelihatan agak kusam atau buram. Ini bukan dealbreaker sih, tapi cukup mengganggu, apalagi kalau lo main di PC dengan monitor tajam dan refresh rate tinggi.
Beberapa animasi juga masih terasa janky — terutama waktu lo pakai winch buat turun dari gedung tinggi. Kadang transisinya nggak mulus, kayak animasi dari game lama yang belum sempat disikat bersih. Tapi di luar hal-hal kecil itu, atmosfer game ini benar-benar kuat. Techland jelas tahu gimana bikin dunia yang “bernapas,” bahkan di tengah kehancuran.
Polishing: Masih Ada Bug, Tapi Jauh Lebih Stabil
Ya, The Beast masih punya momen janggal — zombie yang kadang stuck di tangga, mobil yang tiba-tiba meledak tanpa sebab, atau physics yang suka ngelucu. Tapi dibanding Dying Light 2 saat rilis, ini udah lompatan besar.
Yang paling penting, The Beast terasa lebih fokus dan lebih stabil. Nggak ada lagi side quest aneh yang tiba-tiba nge-bug, atau cutscene yang ngilang begitu aja. Semua mengalir dengan pacing yang tepat. Dan kalaupun lo nemuin glitch, kebanyakan malah lucu, bukan bikin kesel.
Keseimbangan: Antara Power Fantasy dan Survival Horror
Kekuatan terbesar The Beast justru ada di balancing. Game ini berhasil jalan di garis tipis antara “power fantasy” dan “survival horror.” Saat lo berubah jadi Beast, lo merasa tak terkalahkan. Tapi begitu kekuatan itu hilang, rasa takut langsung balik — malam, kabut, dan suara makhluk di kejauhan bikin lo ngerasa kecil lagi. Itulah dinamika yang bikin The Beast terasa “manusiawi,” meskipun protagonisnya bukan manusia seutuhnya lagi.
Game ini ngerti bahwa kekuatan tanpa ketakutan itu membosankan, dan ketakutan tanpa kekuatan itu menyiksa. The Beast berhasil memadukan keduanya dengan pas.
Kesimpulan: Dying Light Sudah Hidup Kembali
Jadi, apakah Dying Light: The Beast berhasil menebus kesalahan Stay Human? Jawabannya: ya — hampir sepenuhnya.
Game ini mungkin bukan revolusi total. Masih ada DNA Dying Light 2 di dalamnya, terutama dari sisi engine dan sistem crafting yang ribet. Tapi dibanding sekuel sebelumnya, The Beast terasa jauh lebih jujur, fokus, dan punya semangat yang sama kayak game pertamanya.
Durasi sekitar 20 jam buat main story juga pas — nggak terlalu panjang, tapi cukup buat bikin lo puas. Kalau mau eksplor semua side quest dan ngumpulin collectibles, bisa tembus 40 jam-an, tapi tetap nggak terasa repetitif karena pacing-nya terjaga.
Kalau lo udah kangen sensasi lari dari Volatile di malam hari sambil panik dan teriak “anjir!”, The Beast bakal kasih lo itu lagi — dengan bumbu baru yang lebih modern, lebih brutal, dan lebih berani.
Related Articles

ROG Hone Control Ace L Vitality Edition: Mouse Pad FPS yang Dirancang Pro Player!
ASUS ROG ikut ngeramein COMPUTEX 2026 dengan gear yang keliatannya simpel, tapi penting banget buat pemain FPS: ROG Hone Control Ace L Vitality Editio...

MSI dan Gigabyte Pamer Monitor Mini-LED 5K 27 Inci
Di Computex, banyak orang lagi ribut soal monitor OLED generasi baru. Tapi diam-diam, kubu LCD juga lagi naik level dengan spek yang ga kalah barbar. ...

Thermalright Trofeo Vision 9.16: LCD Buat Bikin Build PC Makin Ganteng
Thermalright punya barang yang namanya Trofeo Vision 9.16 LCD, layar kecil buat dipasang di dalam PC sebagai display status sistem sekaligus...

Virtua Fighter Crossroads: Game Fighting Adventure dari Developernya Yakuza
Setelah lama cuma jadi bahan teaser dan potongan gameplay tanpa konteks, proyek Virtua Fighter baru dari RGG Studio akhirnya mulai jelas. Di Summer Ga...