
HyperX Cloud Alpha 2 Wireless: Baterainya Gila, Sampe 250 Jam!
Kalau kita ngomongin headset wireless dengan baterai absurd, satu nama yang hampir selalu muncul adalah HyperX Cloud Alpha Wireless. Versi pertamanya dulu literally bikin headset lain kelihatan seperti lupa cara menghemat daya: 300 jam via koneksi 2.4GHz. Sampai sekarang, angka itu masih belum benar-benar terkejar.
Sekarang, HyperX balik lagi dengan Cloud Alpha 2 Wireless. Angkanya memang “turun” ke 250 jam, tapi jujur saja—itu masih tergolong tidak masuk akal untuk standar headset wireless zaman sekarang. Pertanyaannya bukan “apakah baterainya bagus?”, tapi apakah Cloud Alpha 2 masih relevan di harga yang jauh lebih mahal, di tengah kompetisi yang makin ketat?
Masih Raja Baterai, Walau Mahkotanya Sedikit Miring
Kita bahas yang paling gampang dulu: daya tahan baterai.
Cloud Alpha 2 Wireless bisa bertahan:
- Hingga 250 jam di mode 2.4GHz wireless (adapter mode)
- Sekitar 125 jam kalau pakai dual wireless (2.4GHz + Bluetooth sekaligus)
Ya, ada “penurunan” dibanding generasi pertama, tapi 250 jam itu masih lebih dari dua kali lipat kebanyakan headset gaming wireless lain. Bahkan HyperX Cloud III S Wireless saja “cuma” mentok di sekitar 120 jam.
Kalau kamu tipe gamer yang:
- Males ngecas
- Sering lupa ngecas
- Atau pengin headset yang bisa dipakai berminggu-minggu tanpa mikir colokan
Cloud Alpha 2 masih jadi salah satu pilihan paling aman di planet ini.
Desain Lebih Dewasa, Lebih “Cloud III”
Secara desain, Cloud Alpha 2 sekarang jauh lebih selaras dengan lini Cloud III. Tampangnya lebih minimalis, lebih rapi, dan terasa lebih “premium”.
Materialnya:
- Headband baja tahan karat warna abu-abu gelap
- Fork aluminium melengkung
- Earcup plastik besar berbentuk oval
- Padding empuk dengan balutan microfiber yang halus
Tidak ada gimmick pelat magnetik seperti di Cloud III S Wireless, tapi jujur saja, itu bukan fitur krusial juga. Secara visual, Cloud Alpha 2 terlihat lebih serius dan dewasa dibanding pendahulunya.
Dan yang penting: nyaman.
Dipakai Lama? Aman.
Cloud Alpha 2 ini nyaman dipakai berjam-jam. Headband fleksibel, padding atas kepala empuk, dan earcup bisa:
- Diputar
- Dimiringkan
- Dilipat rata buat dibawa pergi
Bobotnya sekitar 345 gram, sedikit lebih berat dari Cloud III Wireless dan lebih berat dari versi wired-nya. Jadi ya, ini bukan headset super ringan yang bikin kamu lupa sedang pakai headset—tapi juga tidak sampai bikin leher protes.
Untuk sesi gaming panjang? Aman.
Untuk maraton Discord + game + YouTube? Masih oke.

Base Station: Fitur Tambahan yang Benar-Benar Kepakai
Salah satu pembeda terbesar Cloud Alpha 2 dibanding headset lain adalah desktop base station-nya.
Ini bukan sekadar dongle. Base station ini berfungsi sebagai:
- Receiver wireless 2.4GHz
- Pusat kontrol audio
- Shortcut fisik biar kamu tidak harus buka software
Di atasnya ada:
- Knob besar untuk volume
- Tap-to-mute mic (ini enak banget)
- Enam tombol warna-warni yang bisa diprogram ulang
Tombol-tombol ini bisa diatur untuk:
- Mic volume
- Game/chat mix
- Monitoring mic
- Mute
- Preset EQ
- Play/pause
Atau bahkan di-mapping ke shortcut keyboard dan macro.
Ini salah satu fitur yang bikin Cloud Alpha 2 terasa “mahal”—dan memang kepakai, bukan pajangan.
Kontrol & Konektivitas: Lengkap Tapi Agak Ramai
Sebagai headset wireless, Cloud Alpha 2 memang penuh tombol dan port.
Di earcup kiri:
- Tombol power
- Tombol mute mic
- Jack 3.5mm
- USB-C charging
- Port mic detachable
Di earcup kanan:
- Switch adapter / dual mode
- Tombol multifungsi
- Volume wheel
Fungsional, tapi buat pengguna baru mungkin perlu waktu adaptasi biar tidak salah pencet.

Kualitas Audio: Bagus untuk Game, Biasa untuk Musik
Cloud Alpha 2 pakai driver 53mm dual-chamber angled, dan secara teknis, kualitas audionya lebih baik dari Cloud III series. Tapi… di harga hampir $300, ekspektasi orang pasti lebih tinggi.
Untuk gaming:
- Detail suara jelas
- Footstep dan tembakan mudah diposisikan
- Virtual surround dan spatial audio bekerja sangat baik
- Cocok untuk FPS kompetitif
Untuk game open-world atau RPG? Atmosfer ada, layering terasa, tapi soundstage agak sempit—maklum closed-back.
Untuk musik?
- Oke, tapi tidak istimewa
- Bass ada, tapi tidak “nendang”
- Mid cukup dominan
- High kadang terasa sibilant
- Overall agak terasa “compressed”
Kalau tujuan utamamu musik, headset seperti Audeze Maxwell masih jauh di atas. Cloud Alpha 2 ini jelas lebih gaming-oriented daripada all-rounder.
Mikrofon: Aman, Tidak Mengagumkan
Mic boom detachable-nya solid, kualitasnya mirip Cloud III series:
- Suara jelas
- Tidak cempreng
- Cukup hangat
- Tapi tidak bikin orang bilang “wah”
Built-in mic di earcup? Ya… standar. Bisa dipakai darurat, tapi jangan berharap kualitas streaming.
Tap-to-mute di base station tetap jadi MVP di sini.
Software: Banyak Fitur, Masih Setengah Matang
Cloud Alpha 2 pakai HyperX Ngenuity Beta, dan kata “Beta” di sini memang masih terasa.
Fitur yang tersedia:
- EQ
- Spatial audio tuning
- Mic effects (AI noise reduction, compressor, limiter)
- Custom RGB dan tombol di base station
Masalahnya, setting tidak tersimpan langsung ke headset atau base station. Jadi software harus selalu jalan kalau mau fitur maksimal. Untuk headset gaming meja? Masih oke. Untuk headset lifestyle? Kurang fleksibel.

Jadi, Worth It atau Tidak?
HyperX Cloud Alpha 2 Wireless adalah headset gaming yang sangat solid:
- Baterai luar biasa
- Build premium
- Nyaman dipakai lama
- Spatial audio dan positioning mantap
- Base station benar-benar fungsional
Tapi di harga $299, kompetisinya berat. Dari sisi audio murni, ada headset yang terdengar jauh lebih “mahal”. Cloud Alpha 2 unggul bukan karena suaranya paling enak, tapi karena kombinasi daya tahan, fitur, dan kenyamanan.
Kalau prioritas kamu:
- Gaming kompetitif
- Tidak mau ribet ngecas
- Suka kontrol fisik lewat base station
Cloud Alpha 2 masih sangat layak dipertimbangkan.
Kalau kamu cari headset wireless buat musik serius? Mungkin bukan ini juaranya.
Singkatnya: Cloud Alpha 2 bukan headset paling “wah” secara suara, tapi salah satu yang paling masuk akal untuk gamer yang ingin praktis dan tahan lama.
Related Articles

Sennheiser Momentum True Wireless 5: TWS yang Baterainya Bisa Diganti Sendiri
Sennheiser resmi memperkenalkan Momentum True Wireless 5, earbuds flagship terbaru yang membawa banyak upgrade besar. Bukan cuma soal suara, ANC, atau...

Keychron V6 Ultra Hybrid: Keyboard Mecha+Magnetic tapi Ukurannya Full-size
Keychron kembali bikin kejutan di dunia keyboard. Setelah sempat menggoda publik dengan V6 Ultra Hybrid, sekarang keyboard wireless hybrid ini resmi m...

Moondrop Chu 3: IEM Murah Meriah dengan Driver Baru dan Shell Zinc-Alloy
Moondrop akhirnya meluncurkan Moondrop Chu 3, generasi terbaru dari seri Chu yang selama ini jadi salah satu nama paling populer di kelas IEM entry-le...

Keyboard Wireless SteelSeries Mahal Jadi Korban Baterai Bengkak
Keyboard wireless mekanikal memang terdengar enak banget. Bisa tetap dapat feel khas mechanical keyboard, tapi meja lebih rapi dan posisi lebih bebas ...