
Nenek Umur 92 Tahun Ini Juara Turnamen Tekken 8
Kalau masih ada yang bilang esports cuma buat anak muda, berita ini bakal bikin mereka mikir ulang. Di Jepang, sebuah turnamen Tekken 8 khusus lansia baru saja digelar—dan juaranya berusia 92 tahun. Yup, bukan typo.
Turnamen ini digelar oleh Care, sebuah asosiasi esports asal Prefektur Mie yang memang punya misi unik: bikin para lansia bisa ikut esports dengan santai, fun, dan tetap kompetitif. Acara ini dilaporkan oleh media game Jepang Game*Spark dan disiarkan langsung lewat kanal YouTube resmi Care. Jadi, ini bukan event kecil-kecilan di balai warga—produksinya niat.
Esports Tanpa Batas Usia
Turnamen ini adalah event esports ke-12 yang diadakan Care, dengan format dua kali setahun. Delapan pemain yang semuanya berusia 65 tahun ke atas lolos ke babak final setelah melewati kualifikasi regional di Prefektur Aichi, Gifu, dan Mie. Formatnya satu lawan satu, full bracket, serius—tapi tetap santai.
Dan di puncaknya, keluar satu nama yang langsung bikin semua orang angkat topi: Hisako Sakai, 92 tahun, resmi jadi juara.
Dari Papan Catur ke Arena Tekken
Care sendiri bukan pemain baru di dunia kompetisi lansia. Sejak 2019, mereka sudah rutin menggelar turnamen, awalnya pakai game papan klasik seperti Shogi dan Reversi. Uniknya, dari dulu pun mereka sudah pakai format ala esports profesional: ada live commentary, ada siaran langsung, ada atmosfer turnamen beneran.
Baru di turnamen ke-11, Care mulai masuk ke game modern dengan memperkenalkan Tekken 8, game fighting flagship dari Bandai Namco. Dan responsnya? Positif. Turnamen edisi terbaru yang digelar November lalu pun kembali memakai Tekken 8.
Nenek-Nenek, Karakter Tekken, dan Mental Juara
Di turnamen ini, peserta tertua adalah Reiko Yokota, 95 tahun, yang bermain menggunakan Jun Kazama. Ada juga juara bertahan turnamen sebelumnya, Ryōe Murabe, pengguna Panda, yang sayangnya harus tersingkir di ronde pertama oleh Kinuko Watanabe dengan karakter Alisa Bosconovitch.
Sementara itu, Sakai melaju dengan karakter Claudio Serafino. Ia menyingkirkan beberapa unggulan, termasuk Sadayuki Kato (Armor King) di semifinal, sebelum akhirnya menang di partai final melawan Gorō Sugiyama, pengguna Lili.
Refleks boleh menurun, tapi mental juara? Masih tajam.
Esports sebagai Aktivitas Sehat
Menurut Care, esports bukan cuma soal menang-kalah. Mereka melihat game kompetitif sebagai cara buat menjaga kesehatan mental, melatih refleks, dan bikin para lansia tetap aktif secara sosial. Singkatnya: otak tetap jalan, hati tetap senang.
Ke depannya, Care nggak mau berhenti di level regional. Target mereka berikutnya adalah menggelar turnamen lansia skala nasional. Kalau itu kejadian, jangan kaget kalau suatu hari nanti kita lihat liga esports lansia Jepang dengan level hype yang sama—minus drama roster shuffle.
Dan mungkin, suatu saat nanti, umur 90-an justru jadi prime age buat main Tekken. Siapa tahu.
Related Articles

IPS vs TN vs VA vs OLED: Kenapa Panel Monitor Itu Penting Banget?
Kalau kamu pernah mau beli monitor, kemungkinan besar kamu pernah ketemu istilah-istilah kayak IPS, TN, VA, OLED, QD-OLED, atau bahkan Mini-LED.Masala...

KeyBoy Advance: Keyboard Meka yang Gayanya Kayak Gameboy Advance
Buat fans keyboard custom yang juga punya nostalgia kuat ke era handheld Nintendo, ini barang yang sangat spesifik tapi menarik banget. KeyBoy Advance...

Xbox PHK 3.200 Karyawan, Empat Studio Dilepas dari Microsoft
Gelombang PHK besar kembali menghantam Xbox. Kali ini, sekitar 3.200 karyawan bakal kehilangan pekerjaan, dengan 1.600 orang terkena PHK sekarang dan ...

Epomaker Nex Pro: Mouse Gaming 65g yang Pakai Dock Magnetic
Epomaker resmi ngerilis Nex Pro, mouse gaming wireless ergonomis buat pengguna tangan kanan yang datang dengan harga $79,99 atau sekitar Rp1,4 ju...