Nyalahin Gamer, Developer Highguard Dihujat

Nyalahin Gamer, Developer Highguard Dihujat

3 min read 165 views

Di industri game, ada satu jurus yang hampir selalu berakhir buruk: nyalahin gamer.

Drama ini yang lagi ramai dibahas setelah rilis Highguard, hero shooter free-to-play dengan format 3v3 ala Paladin + MOBA. Secara konsep, harusnya menarik. Tapi realitanya? Launch-nya jauh dari mulus.

Kesan Pertama yang Sudah Berat

Beberapa streamer besar sempat nyobain. Shroud bilang game ini ngasih “Realm Royale vibes.” Dia nggak sepenuhnya puas, tapi masih berharap update dan patch bisa memperbaiki banyak hal.

Masalahnya, seperti yang dia bilang, game ini sudah “mulai dari posisi yang nggak enak.” Bahkan sebelum rilis, opini publik sudah cenderung negatif.

Dan di internet, kesan pertama itu kejam. Sekali salah langkah, perbaikannya butuh usaha ekstra keras.

PHK dan Drama Internal

Dua minggu setelah rilis, muncul postingan LinkedIn dari seorang senior level designer yang mengungkap bahwa “sebagian besar tim di Wildlight” kena layoff.

Ya, baru dua minggu.

Industri game memang keras, tapi timing kayak gini jelas bikin publik makin skeptis.

“Concord 2” dan Reaksi Developer

Salah satu suara paling keras datang dari YouTuber Asmongold, yang menyebut game ini sebagai “Concord 2.” Sebuah sindiran yang jelas nggak enak didengar.

Komentar itu rupanya bikin salah satu developer, Josh Sobel, angkat bicara lewat akun X miliknya (yang sekarang sudah dihapus). Dalam postingan panjang berjudul “Reflecting on shipping my first game (Highguard)”, dia menceritakan perjalanan timnya selama 2,5 tahun mengembangkan game tersebut.

Mereka optimis sebelum reveal di The Game Awards. Feedback internal positif. Teman dan keluarga mendukung. Masa depan terasa cerah.

Lalu trailer rilis.

Dan, menurut dia, semuanya menurun dari situ.

Toxic Positivity vs Realita Pasar

Asmongold membalas dengan satu poin sederhana tapi tajam:
“Teman dan keluarga tentu nggak akan bilang game kamu jelek.”

Dia menyebut fenomena itu sebagai toxic positivity. Lingkungan internal bisa terasa penuh dukungan, tapi pasar publik adalah realitas berbeda.

Menurutnya, content creator bukan menciptakan opini negatif demi view. Mereka biasanya mengikuti opini mayoritas. Kalau publik suka game, bahas game itu secara positif justru lebih menguntungkan.

Contohnya? Baldur’s Gate 3. Semua orang suka, dan kontennya laris.

Review Bomb dan “Hate”

Dalam postingannya, Sobel menyebut game ini menerima lebih dari 14 ribu review bomb dari user dengan playtime kurang dari satu jam. Bahkan banyak yang belum menyelesaikan tutorial.

Dia juga menyayangkan meme dan komentar yang menyebut karakter awal mereka “John Video Game” atau bahkan postingan lamaran kerja McDonald’s sebagai sindiran.

Di sinilah titik sensitifnya.

Ketika kritik, meme, dan komentar negatif langsung dilabeli sebagai “hate,” publik biasanya nggak terima. Apalagi setelah beberapa kasus sebelumnya di industri game di mana studio menyalahkan gamer atas kegagalan produk.

Internet punya memori panjang. Dan respons defensif sering kali justru memperparah situasi.

Masalahnya Bukan Cuma Gamenya

Perlu jujur: reaksi keras terhadap Highguard bukan cuma soal gameplay atau performa.

Ini juga soal bagaimana developer merespons kritik.

Di era media sosial, komunikasi publik sama pentingnya dengan balancing patch. Ketika nada yang keluar terkesan menyalahkan pemain, backlash hampir pasti terjadi.

Gamer mungkin keras. Internet mungkin brutal. Tapi menyederhanakan semuanya sebagai “hate” jarang jadi solusi.

Pelajaran yang Bisa Diambil

Industri game modern itu transparan sekaligus kejam. Launch jelek bisa diperbaiki. Banyak game bangkit setelah patch besar.

Tapi narasi “gamer salah” hampir selalu jadi bumerang.

Highguard mungkin masih punya kesempatan lewat update dan perbaikan teknis. Tapi yang jelas, di zaman sekarang, bukan cuma gamenya yang dinilai.

Cara kita menerima kritik juga ikut diuji.

Dan di internet, salah satu aturan tak tertulisnya sederhana:
boleh defensif, tapi jangan menyalahkan audiens yang seharusnya kita layani.

February 15, 2026
Share on:

Related Articles

Ajazz AM5 Hadir dengan Bodi Magnesium 52 Gram dan Wireless 8.000 Hz

Ajazz AM5 Hadir dengan Bodi Magnesium 52 Gram dan Wireless 8.000 Hz

Ajazz memperkenalkan AM5, mouse gaming wireless dengan bodi berbahan paduan magnesium, bobot sekitar 52 gram, dan sensor PAW3950. Mouse ini menawarkan...

October 13, 2026
Guide NVIDIA App: Setting untuk Game Modern, Game Lawas, G-SYNC, DLSS, dan ShadowPlay

Guide NVIDIA App: Setting untuk Game Modern, Game Lawas, G-SYNC, DLSS, dan ShadowPlay

NVIDIA App sekarang menggabungkan pengelolaan driver, setting grafis, fitur layar, dan record gameplay dalam satu aplikasi. Pilihannya makin lengkap, ...

October 12, 2026
Absurd! Modder Pasang Radiator 360mm ke Laptop, Suhu Turun Drastis

Absurd! Modder Pasang Radiator 360mm ke Laptop, Suhu Turun Drastis

Kalo laptop gaming panas, kebanyakan orang mulai dari membersihkan kipas atau mengganti thermal paste. YouTuber TrashBench memilih jalan yang sedikit ...

October 11, 2026
Razer Basilisk V4 Pro: Lebih Banyak Kontrol, Emang Berguna?

Razer Basilisk V4 Pro: Lebih Banyak Kontrol, Emang Berguna?

Razer memperkenalkan Basilisk V4 Pro, generasi baru mouse gaming ergonomisnya, bersama Basilisk V4 HyperSpeed dan aksesori pengisian daya Mouse Dock V...

October 10, 2026