
Nyalahin Gamer, Developer Highguard Dihujat
Di industri game, ada satu jurus yang hampir selalu berakhir buruk: nyalahin gamer.
Drama ini yang lagi ramai dibahas setelah rilis Highguard, hero shooter free-to-play dengan format 3v3 ala Paladin + MOBA. Secara konsep, harusnya menarik. Tapi realitanya? Launch-nya jauh dari mulus.
Kesan Pertama yang Sudah Berat
Beberapa streamer besar sempat nyobain. Shroud bilang game ini ngasih “Realm Royale vibes.” Dia nggak sepenuhnya puas, tapi masih berharap update dan patch bisa memperbaiki banyak hal.
Masalahnya, seperti yang dia bilang, game ini sudah “mulai dari posisi yang nggak enak.” Bahkan sebelum rilis, opini publik sudah cenderung negatif.
Dan di internet, kesan pertama itu kejam. Sekali salah langkah, perbaikannya butuh usaha ekstra keras.
PHK dan Drama Internal
Dua minggu setelah rilis, muncul postingan LinkedIn dari seorang senior level designer yang mengungkap bahwa “sebagian besar tim di Wildlight” kena layoff.
Ya, baru dua minggu.
Industri game memang keras, tapi timing kayak gini jelas bikin publik makin skeptis.
“Concord 2” dan Reaksi Developer
Salah satu suara paling keras datang dari YouTuber Asmongold, yang menyebut game ini sebagai “Concord 2.” Sebuah sindiran yang jelas nggak enak didengar.
Komentar itu rupanya bikin salah satu developer, Josh Sobel, angkat bicara lewat akun X miliknya (yang sekarang sudah dihapus). Dalam postingan panjang berjudul “Reflecting on shipping my first game (Highguard)”, dia menceritakan perjalanan timnya selama 2,5 tahun mengembangkan game tersebut.
Mereka optimis sebelum reveal di The Game Awards. Feedback internal positif. Teman dan keluarga mendukung. Masa depan terasa cerah.
Lalu trailer rilis.
Dan, menurut dia, semuanya menurun dari situ.
Toxic Positivity vs Realita Pasar
Asmongold membalas dengan satu poin sederhana tapi tajam:
“Teman dan keluarga tentu nggak akan bilang game kamu jelek.”
Dia menyebut fenomena itu sebagai toxic positivity. Lingkungan internal bisa terasa penuh dukungan, tapi pasar publik adalah realitas berbeda.
Menurutnya, content creator bukan menciptakan opini negatif demi view. Mereka biasanya mengikuti opini mayoritas. Kalau publik suka game, bahas game itu secara positif justru lebih menguntungkan.
Contohnya? Baldur’s Gate 3. Semua orang suka, dan kontennya laris.
Review Bomb dan “Hate”
Dalam postingannya, Sobel menyebut game ini menerima lebih dari 14 ribu review bomb dari user dengan playtime kurang dari satu jam. Bahkan banyak yang belum menyelesaikan tutorial.
Dia juga menyayangkan meme dan komentar yang menyebut karakter awal mereka “John Video Game” atau bahkan postingan lamaran kerja McDonald’s sebagai sindiran.
Di sinilah titik sensitifnya.
Ketika kritik, meme, dan komentar negatif langsung dilabeli sebagai “hate,” publik biasanya nggak terima. Apalagi setelah beberapa kasus sebelumnya di industri game di mana studio menyalahkan gamer atas kegagalan produk.
Internet punya memori panjang. Dan respons defensif sering kali justru memperparah situasi.
Masalahnya Bukan Cuma Gamenya
Perlu jujur: reaksi keras terhadap Highguard bukan cuma soal gameplay atau performa.
Ini juga soal bagaimana developer merespons kritik.
Di era media sosial, komunikasi publik sama pentingnya dengan balancing patch. Ketika nada yang keluar terkesan menyalahkan pemain, backlash hampir pasti terjadi.
Gamer mungkin keras. Internet mungkin brutal. Tapi menyederhanakan semuanya sebagai “hate” jarang jadi solusi.

Pelajaran yang Bisa Diambil
Industri game modern itu transparan sekaligus kejam. Launch jelek bisa diperbaiki. Banyak game bangkit setelah patch besar.
Tapi narasi “gamer salah” hampir selalu jadi bumerang.
Highguard mungkin masih punya kesempatan lewat update dan perbaikan teknis. Tapi yang jelas, di zaman sekarang, bukan cuma gamenya yang dinilai.
Cara kita menerima kritik juga ikut diuji.
Dan di internet, salah satu aturan tak tertulisnya sederhana:
boleh defensif, tapi jangan menyalahkan audiens yang seharusnya kita layani.
Related Articles

Dygma Sonsei: Keyboard Ergonomic tapi Imut-Imut
Dygma Lab resmi ngenalin Dygma Sonsei, keyboard mekanikal ergonomis baru yang mencoba menjawab satu masalah klasik: keyboard ergo itu nyaman, tapi ser...

Razer Seiren V3 Chroma 32-Bit DSP: Suara Lebih Rapi Tanpa Ribet
Razer resmi ngenalin Seiren V3 Chroma 32-Bit DSP, microphone USB baru yang membawa fitur audio processing dari Seiren V3 Pro ke model yang lebih terja...

Gamepad vs Keyboard dan Mouse: Mana yang Lebih Enak?
Kalau ada satu perdebatan yang hampir selalu muncul di kalangan gamer PC, salah satunya pasti soal ini: lebih enak main pakai gamepad atau keyboard da...

ATTACK SHARK RS6 ULTRA: Mouse Gaming dengan Baterai Hot-Swap dan Sensor Tuning
ATTACK SHARK siap ngerilis RS6 ULTRA, mouse gaming wireless flagship baru yang dibuat buat pemain FPS kompetitif dan pasar esports premium.Di atas ker...