Onimusha: Way of the Sword Review: Comeback Samurai dengan Perfect Combat?

Onimusha: Way of the Sword Review: Comeback Samurai dengan Perfect Combat?

Setelah hampir 20 tahun tidur panjang, Onimusha akhirnya balik lewat Onimusha: Way of the Sword. Buat fans era PlayStation 2, ini jelas momen besar. Dulu Capcom sempat ngebut dengan seri ini, lalu franchise-nya seperti hilang begitu saja setelah 2006.

Sekarang, Onimusha kembali di era Capcom yang lagi panas. Ekspektasinya jelas tinggi. Pertanyaannya: apakah comeback ini layak ditunggu?

Jawabannya: iya, terutama kalau kamu suka action game yang menuntut skill. Way of the Sword punya combat yang luar biasa satisfying, animasi kelas atas, boss fight brutal, dan feel Capcom yang masih kuat banget. Tapi game ini juga punya beberapa bagian yang terasa kurang solid, terutama di desain misi dan struktur area semi-open.

PC Port Solid, Ga Banyak Drama

Versi PC Onimusha: Way of the Sword terasa stabil. Tidak ada stutter parah, slowdown, bug visual aneh, atau glitch besar yang mengganggu pengalaman main.

Dengan setting maksimal di PC kuat, game berjalan mulus. Ini cukup melegakan, apalagi karena beberapa rilisan modern dengan area besar kadang bermasalah di PC. Way of the Sword memang bukan open-world penuh, tapi tetap punya area semi-terbuka. Untungnya, performa tetap aman dan terasa rapi.

Jangan Tertipu Demo, Game Ini Brutal

Kalau demo-nya sempat terasa terlalu mudah, versi final punya kejutan besar. Di difficulty standar, Way of the Sword bisa jadi salah satu game Capcom modern paling menantang.

Awalnya game masih cukup pelan. Pemain diberi ruang buat belajar timing, membaca musuh, dan memahami sistem dasar. Tapi makin jauh, kurva tantangannya terus naik. Paruh belakang game mulai benar-benar galak, terutama boss fight.

Beberapa boss terasa sangat pedas, bahkan bisa bikin pertarungan Soulslike terlihat lebih santai. Untungnya, ada Story Mode difficulty buat pemain yang ingin menikmati cerita dan spectacle tanpa terlalu stres.

Tapi kalau main di action difficulty, siap-siap. Ini bukan nostalgia santai tebas demon. Ini game yang menuntut fokus, kesabaran, dan mastery.

Combat Jadi Bintang Utama

Subjudulnya Way of the Sword, dan memang combat adalah pusat semuanya. Secara dasar, kamu punya light attack, heavy attack, special ability, dodge, parry, dan meter. Kedengarannya standar, tapi eksekusinya sangat rapi.

Setiap duel terasa berat dan tajam. Pedang beradu dengan efek yang satisfying. Parry terasa penting. Counterattack terasa seperti hadiah karena kamu berhasil membaca gerakan musuh.

Yang bikin makin gila adalah animasinya. Capcom benar-benar pamer skill di sini. Bahkan encounter biasa bisa terasa seperti duel hidup-mati karena gerakan Musashi terlihat begitu halus, brutal, dan sinematik.

Saat boss fight mulai masuk, combat-nya benar-benar bersinar.

Banyak Opsi Bertahan, Tapi Semuanya Berguna

Way of the Sword punya banyak defensive option. Ada dodge, perfect dodge, parry, deflect, sampai Issen. Awalnya bisa terasa ramai, tapi makin lama semuanya mulai masuk akal.

Setiap opsi punya fungsi berbeda. Parry lebih cocok untuk serangan pedang. Dodge lebih aman untuk serangan elemental, fisik, atau grab. Perfect dodge bisa membuka counterattack keren. Deflect memberi opsi yang sedikit lebih aman, terutama saat kamu sudah masuk kondisi tertentu.

Game ini tidak ingin kamu cuma dodge terus sambil menunggu boss selesai menyerang. Di sini, kamu harus membuat celah sendiri. Itu yang bikin pertarungannya terasa agresif.

Burning State dan Issen Bikin Skill Ceiling Tinggi

Salah satu sistem menarik adalah Burning State, power-up yang dibangun lewat perfect parry. Saat aktif, kamu bisa memberi stamina damage lebih besar dan memakai deflect untuk membalik tekanan boss.

Ada juga serangan kuat yang bisa diarahkan ke bagian tubuh tertentu. Menarget kepala bisa memberi damage besar, sementara bagian seperti ekor bisa menjatuhkan soul tambahan untuk healing atau mengisi ability.

Lalu ada Issen, mekanik klasik Onimusha yang kembali di sini. Konsepnya simpel: serang tepat saat musuh hampir mengenai kamu, lalu Musashi melakukan counter besar. Tapi timing-nya kejam. Bahkan melawan musuh biasa, eksekusinya tetap sulit. Melawan boss, ini jadi momen buat pemain yang benar-benar niat pamer skill.

Issen membuat combat punya skill ceiling tinggi. Kamu tidak wajib menguasainya, tapi kalau berhasil, rasanya luar biasa.

Absorb Soul Masih Ikonik

Mekanik menyerap soul juga kembali. Setelah musuh kalah, soul muncul dan harus diserap manual dengan menahan tombol. Soul bisa dipakai untuk experience, mengisi meter, atau memulihkan HP.

Sederhana, tapi memberi kedalaman ekstra. Beberapa musuh bisa mencuri soul, dan boss tertentu bisa menyerapnya untuk memperkuat diri. Jadi setelah mengalahkan musuh, kamu tetap harus waspada.

Sistem ini bikin combat terasa seperti tug-of-war. Kamu menyerang, bertahan, mengatur resource, lalu berebut soul agar momentum tetap di tanganmu.

Musashi dan Animasi Jadi Nilai Plus Besar

Kamu bermain sebagai Musashi, swordsman legendaris yang terkenal menang dengan cara apa pun. Game mencoba membawa energi itu lewat kemampuan memakai lingkungan, seperti meja, pilar demon, atau bahan peledak.

Elemen improvisasi ini seru, meski agak kurang matang. Tidak selalu jadi bagian utama combat, tapi saat muncul, rasanya tetap menyenangkan.

Yang paling mencuri perhatian tetap animasi Musashi. Gerakan wajah, ekspresi, cutscene, dan combat animation semuanya terasa kelas atas. Capcom sudah punya standar tinggi lewat game seperti Devil May Cry 5, tapi di sini mereka benar-benar tampil gila untuk duel pedang.

Cerita Klasik, Tapi Dibawakan dengan Kuat

Cerita Way of the Sword pada dasarnya cukup tradisional: pahlawan melawan demon. Tapi eksekusinya lebih kuat dari yang terdengar.

Karakter-karakternya punya kepribadian, villain-nya cukup menjijikkan untuk membuat pemain ingin menghabisi mereka, dan Musashi terasa menarik untuk diikuti. Game juga bisa berpindah dari momen goofy ke horror brutal tanpa terasa rusak.

Ini bukan cerita paling fresh di dunia, tapi terasa dibuat dengan percaya diri. Untuk action game seperti ini, itu sudah cukup untuk menjaga pemain tetap peduli.

Eastern Kyoto Agak Menarik, Tapi Juga Repetitif

Salah satu area besar dalam game adalah Eastern Kyoto, hub semi-open tempat pemain mencari resource, menjalankan side quest, membersihkan malice, dan membebaskan kota dari pengaruh demon.

Bagian ini punya sisi positif. Eksplorasi ringan, fight kecil, dan aktivitas membersihkan area bisa terasa fun. Tapi setelah beberapa lama, strukturnya mulai terasa berulang.

Banyak area berupa desa rusak, lokasi suram, dan efek demon yang mirip-mirip. Dibanding game Onimusha lama yang punya lingkungan lebih variatif, dunia Way of the Sword kadang terasa agak dull.

Masalah terbesar bukan kualitas visualnya, karena game ini tetap terlihat bagus. Masalahnya ada di pace dan variasi.

Side Quest dan Misi Terasa Kurang Solid

Side quest umumnya cukup basic. Banyak yang bentuknya pergi ke lokasi, lawan musuh, lalu selesai.

Struktur misi juga kadang berulang: bersihkan gloom, hancurkan bunga jahat, masuk Oni Realm, selesaikan puzzle block, cari spider pembuat barrier, lalu lanjut.

Untungnya, combat game ini sangat kuat, jadi aktivitas itu masih bisa dinikmati. Tapi tetap terasa bahwa desain misi belum setara dengan kualitas sistem bertarungnya.

Untuk standar Capcom modern, game ini terasa sedikit lebih padded. Bukan bloated seperti open-world penuh checklist, tapi tidak selalu all killer, no filler.

Boss Fight Bisa Jadi Highlight Tahun Ini

Kalau ada alasan terbesar untuk memainkan Way of the Sword, jawabannya adalah boss fight.

Pertarungan boss di sini intens, sulit, dan spektakuler. Pola serangan bisa kacau, damage menyakitkan, dan timing bertahan menuntut fokus tinggi. Tapi begitu kamu mulai paham ritmenya, rasanya sangat satisfying.

Ada momen saat boss yang awalnya terlihat mustahil tiba-tiba bisa dibaca. Kamu tahu kapan harus parry, dodge, deflect, menyerang bagian tubuh tertentu, dan kapan menyerap soul.

Game ini membuat kemenangan terasa benar-benar earned. Bukan karena angka stat lebih tinggi, tapi karena kamu belajar.

Cocok Buat Fans Action Game yang Suka Tantangan

Onimusha: Way of the Sword cocok buat pemain yang suka combat berbasis timing, boss sulit, animasi sinematik, dan game action yang menuntut mastery.

Kalau kamu cuma ingin pengalaman santai, Story Mode bisa jadi pilihan aman. Tapi kalau kamu suka game yang menekan sampai kamu dipaksa belajar, action difficulty akan memberi banyak momen panas.

Game ini kadang bikin frustrasi, tapi hampir selalu berhasil membuatmu ingin mencoba lagi.

Kesimpulan

Onimusha: Way of the Sword adalah comeback yang kuat. Combat-nya luar biasa, animasinya next level, boss fight-nya brutal, dan sistem seperti parry, dodge, deflect, Issen, Burning State, serta soul absorption membuat pertarungan terasa kaya.

Tapi game ini belum sempurna. Eastern Kyoto kadang terasa terlalu panjang, side quest cukup basic, dan desain misi mulai repetitif setelah beberapa jam.

Meski begitu, kelemahannya tidak merusak kekuatan utama game. Ini tetap action game yang sangat layak dimainkan, terutama buat fans Onimusha lama dan pemain yang suka duel pedang penuh tekanan.

Capcom mungkin belum membuat comeback Onimusha yang sempurna. Tapi mereka jelas membuktikan satu hal: seri ini masih punya taring.

Saat Way of the Sword berada di titik terbaiknya, game ini terasa seperti salah satu duel samurai paling keren yang pernah dibuat Capcom.

September 5, 2026
Share on:

Related Articles

Semua Info yang Perlu Kamu Tahu Soal Zelda: Ocarina of Time Remake

Semua Info yang Perlu Kamu Tahu Soal Zelda: Ocarina of Time Remake

Nintendo akhirnya membuka detail besar untuk The Legend of Zelda: Ocarina of Time versi Nintendo Switch 2. Setelah lama jadi bahan rumor, remake dari ...

September 9, 2026
Razer Clio X: Speaker Wireless Tapi Bantal Kursi Gaming

Razer Clio X: Speaker Wireless Tapi Bantal Kursi Gaming

Razer datang dengan aksesori audio gaming yang cukup unik di PAX West 2026. Namanya Razer Clio X, sebuah speaker cushion wireless yang dipasang di bag...

September 8, 2026
Liberty Walk x Original Konbini OK-1, Keyboard JDM dengan Bodi Aluminium dan VIA

Liberty Walk x Original Konbini OK-1, Keyboard JDM dengan Bodi Aluminium dan VIA

Kolaborasi antara brand otomotif dengan peripheral gaming sebenarnya bukan hal baru. Namun, Liberty Walk x Original Konbini OK-1 punya pendekatan yang...

September 7, 2026
DLSS 5 Review: Visual Lebih Realistis, Tapi Performa Turun Drastis

DLSS 5 Review: Visual Lebih Realistis, Tapi Performa Turun Drastis

DLSS selama ini identik dengan satu hal: performa. Entah lewat Super Resolution, Frame Generation, atau Multi Frame Generation, teknologi DLSS biasany...

September 6, 2026