
Review Beast of Reincarnation: Keluar dari Zona Pokémon, Tapi Masih Kurang?
Game Freak bikin action RPG gelap, post-apocalyptic, penuh monster korup, dan ditemani anjing raksasa? Di atas kertas, Beast of Reincarnation mungkin langsung bikin penasaran.
Ini bukan Pokémon. Bukan game lucu penuh monster imut dan battle santai. Beast of Reincarnation mencoba masuk ke wilayah yang lebih kelam: dunia Jepang masa depan yang hancur, karakter utama dengan kekuatan tanaman, combat berbasis parry, boss besar bernama Nushi, dan companion anjing bernama Koo yang bukan cuma pajangan.
Idenya keren banget.
Masalahnya, setelah beberapa jam dimainkan, Beast of Reincarnation terasa seperti game yang punya banyak ide bagus tapi gagal berpadu. Combat-nya punya ide menarik. Koo sebagai partner terasa keren. Atmosfernya unik. Tapi eksplorasi yang hambar, musuh yang repetitif, boss yang kurang nendang, dan pacing cerita yang lambat bikin game ini susah direkomendasikan kalo enggak diskon.
Ini tipe game yang punya potensi besar, tapi eksekusinya masih terasa setengah matang.
Game Freak Nyoba Sesuatu yang Jauh Lebih Gelap
Salah satu hal paling menarik dari Beast of Reincarnation tentu saja nama studionya. Game ini datang dari Game Freak, studio yang selama ini paling dikenal lewat Pokémon.
Jadi wajar kalau banyak orang langsung penasaran. Studio yang biasanya identik dengan monster collecting sekarang mencoba bikin action RPG serius dengan nuansa suram.
Ceritanya berlatar jauh di masa depan, saat umat manusia sudah kacau. Banyak manusia memindahkan jiwa mereka ke tubuh golem robotik demi bertahan hidup. Tapi dunia tetap membusuk. Korupsi menyebar, alam ikut rusak, dan berbagai makhluk berubah jadi ancaman.
Di tengah semua itu, pemain mengendalikan Emma, seorang perempuan yang punya kutukan atau affliction sendiri. Ia bisa menghadapi beast dan alam yang sudah korup. Perjalanannya membawa dia untuk memburu para Nushi, boss besar yang tersebar di berbagai wilayah, menyerap kekuatan mereka, lalu bersiap menghadapi ancaman utama bernama Beast of Reincarnation.
Vibe-nya kesepian, serius, dan melodramatis. Soundtrack-nya juga mendukung rasa sunyi itu. Tapi justru di sinilah masalah pertamanya muncul: suasananya kuat, tapi penyajiannya sering terasa terlalu lambat.
Emma dan Koo Jadi Pusat Petualangan
Walaupun dunianya terasa sepi, Emma ga benar-benar sendirian. Ia ditemani beberapa karakter, termasuk sosok pria tua misterius dan karakter anak kecil yang punya aura penuh teka-teki.
Tapi bintang sebenarnya adalah Koo, anjing atau wolf-dog companion yang selalu ikut bertarung bersama Emma.
Koo bukan sekadar pet lucu yang lari-lari di samping karakter utama. Ia adalah bagian penting dari combat. Saat menjelajah area, Koo ikut berada di sisi pemain. Di tengah pertarungan, ia bisa menyerang musuh, mengeluarkan serangan khusus, memberi efek status, bahkan membantu membuka strategi baru.
Dan harus diakui, bagian ini adalah salah satu aspek terbaik dari Beast of Reincarnation.
Combat-nya Bukan Soulslike Penuh, Tapi Jelas Terinspirasi
Dari luar, Beast of Reincarnation gampang banget disangka Soulslike. Ada musuh yang bisa membunuh pemain dalam beberapa hit, eksplorasi semi-nonlinear, checkpoint mirip bonfire, parry penting, dan boss besar.
Tapi game ini bukan Soulslike murni.
Kamu tidak kehilangan “souls” saat mati, parry terasa lebih murah hati, dan secara umum game ini lebih mudah didekati dibanding banyak game Soulslike lain. Tantangannya tetap ada, tapi tidak sekejam genre itu.
Combat-nya lebih cocok disebut action RPG dengan fokus besar pada parry, serangan jarak dekat, serangan jarak jauh, aerial attack, dan ability berbasis tanaman.
Parry jadi kunci utama karena dodge terasa kurang enak. Gerakan menghindarnya terasa lembek dan tidak selalu responsif. Jadi daripada mengandalkan dodge, game ini mendorong pemain membaca serangan musuh lalu menangkis di timing yang tepat.
Saat berhasil parry, focus meter akan terisi. Meter ini bisa dipakai untuk memicu slow motion atau mengeluarkan serangan khusus berbasis tanaman, seperti ground pound, ledakan bunga ke depan, atau tusukan vine tendrils.
Ketika semua sistemnya nyambung, combat Beast of Reincarnation bisa berasa keren banget.

Koo Bikin Combat Terasa Lebih Segar
Bagian paling unik dari combat adalah cara Koo digunakan.
Kapan saja, pemain bisa membuka menu serangan Koo yang terasa seperti sentuhan turn-based JRPG. Saat menu ini muncul, game masuk slow motion. Pemain lalu memilih serangan seperti spell, kemudian menjalankan quick-time event untuk mendapat bonus tambahan.
Serangan Koo bisa diberi efek macam-macam. Ia bisa menembakkan fireball yang memberi burn, mengikat musuh dengan vines, menyerang maju dengan gerakan spiral, atau memberikan efek tambahan seperti heal kecil untuk Emma.
Ini ide yang keren banget.
Di satu sisi, combat tetap real-time dan cepat. Tapi di sisi lain, Koo menambahkan layer strategis yang bikin pertarungan terasa beda dari action RPG biasa. Pemain tidak cuma spam slash dan parry, tapi juga mikir kapan waktu terbaik memakai kemampuan Koo.
Kadang kameranya memang agak ngaco, tapi secara konsep dan eksekusi, sistem Koo ini termasuk bagian paling berhasil dari game.
Kekuatan Tanaman Bikin Arena Lebih Dinamis
Ada juga interaksi menarik antara ability Emma dan lingkungan. Semakin sering kemampuan dipakai, tanaman bisa muncul di area pertarungan.
Beberapa tanaman bisa dijadikan titik grapple. Emma bisa menarik diri ke udara, menghindari serangan, lalu turun dengan slam attack kuat. Ia juga bisa memakai vine dari rambutnya untuk traversal, platforming, atau repositioning saat bertarung.
Ketika sistem ini bekerja, Beast of Reincarnation terasa fresh. Ada rasa unik dari menggabungkan sword combat, parry, companion command, dan mobilitas berbasis tanaman.
Masalahnya, bagian keren ini tidak selalu didukung oleh musuh dan arena yang cukup menarik.
Boss dan Musuh Terasa Kurang Variasi
Inilah titik saat Beast of Reincarnation mulai kehilangan tenaga.
Game ini punya banyak boss Nushi, dan secara konsep mereka harusnya jadi highlight. Tapi banyak boss terasa stale. Beberapa bahkan punya pola serangan yang terlalu mirip satu sama lain.
Tidak semuanya buruk, tapi jumlah boss yang terasa biasa saja terlalu banyak untuk game yang sangat bergantung pada combat.
Masalah lebih besar ada di enemy variety. Setelah beberapa jam, pemain masih sering bertemu tipe musuh yang sama seperti di awal game. Kadang ada variasi kecil, tapi secara umum musuh terasa repetitif.
Ini fatal buat game action yang mengandalkan eksplorasi dan pertarungan. Skill tree boleh besar, ability boleh keren, tapi kalau musuh yang dihadapi terasa itu-itu saja, lama-lama semua upgrade kehilangan rasa spesialnya.

Stealth Ada, Tapi Terbatas
Beast of Reincarnation juga punya elemen stealth. Pemain bisa bersembunyi di rumput tinggi, menembak musuh lemah dengan bow, naik ke posisi tinggi, lalu melakukan assassination dari atas ala Assassin’s Creed.
Bahkan ada kemampuan untuk memunculkan rumput sendiri setelah unlock tertentu.
Awalnya, stealth terasa berguna. Karena musuh kecil pun bisa membunuh pemain dalam beberapa pukulan, pendekatan hati-hati terasa masuk akal. Pemain bisa mempelajari area, membaca ancaman, lalu memilih target.
Tapi makin lama, stealth mulai terasa kurang penting. Musuh mudah diprediksi, dan pemain akhirnya lebih sering langsung duel terbuka karena opsi stealth-nya tidak cukup dalam.
Progression Sebenarnya Lumayan Solid
Walaupun banyak aspek terasa hambar, progression Beast of Reincarnation cukup menarik.
Ada senjata yang bisa ditemukan, meski variasinya tidak terlalu dramatis. Beberapa punya elemen berbeda, tapi secara feel tidak terlalu mengubah gaya main. Armor juga tersedia, tapi lebih terasa seperti peningkatan stat dan augment, bukan fashion atau perubahan visual besar.
Resource seperti amber bisa dipakai untuk upgrade. Pemain bisa meningkatkan serangan jarak jauh, damage pedang, dan berbagai aspek lain.
Tapi bagian paling menarik ada di attribute points dan skill tree.
Setiap naik level, pemain mendapat poin atribut yang bisa dimasukkan ke vitality, strength, dan stat lain. Menariknya, poin ini tidak cuma menaikkan angka. Saat mencapai threshold tertentu, pemain bisa membuka bonus tambahan, termasuk augment kecil untuk ability.
Ini bikin proses upgrade terasa lebih memuaskan. Kamu tidak cuma melihat angka naik, tapi mengejar milestone yang memberi efek nyata.
Skill tree Emma dan Koo juga terpisah, dan ukurannya cukup besar. Pemain bisa membangun gaya main sesuai ability favorit, lalu memilih serangan Koo yang paling cocok dengan strategi itu.
Sayangnya, setelah menemukan build yang efektif, game tidak terlalu mendorong pemain untuk sering ganti loadout. Jadi potensi eksperimennya ada, tapi dorongan dari desain musuh dan encounter kurang kuat.
Eksplorasi Jadi Masalah Besar
Combat Beast of Reincarnation bisa seru. Progression juga punya daya tarik. Tapi eksplorasinya sering terasa hambar.
Banyak area terasa besar, kosong, dan kurang hidup. Sesekali ada visual yang menarik, seperti elemen pohon, teknologi, dan alam yang terlihat lush. Tapi secara umum, lingkungan terasa terlalu luas tanpa cukup kejutan menarik.
Hidden corner atau nook and cranny juga jarang terasa menggoda. Resource yang ditemukan tidak cukup penting untuk bikin pemain semangat menyisir map. Sistem makanan dan buff di base juga tidak terasa wajib, jadi bahan-bahan yang dikumpulkan di dunia kehilangan urgensi.
Dalam game seperti ini, eksplorasi harus bikin pemain penasaran. Harus ada rasa “wah, ada apa di balik sana?” Tapi di Beast of Reincarnation, rasa itu sering tidak muncul.
Bahkan ada beberapa invisible wall yang bikin eksplorasi makin terasa dibatasi.
Visualnya Punya Art Direction Bagus, Tapi Teknisnya Kurang Tajam
Secara ide visual, Beast of Reincarnation punya gaya yang menarik. Post-apocalyptic Japan, tanaman korup, monster besar, mechanical walker sebagai base, dan efek ability berbasis alam punya identitas kuat.
Tapi secara teknis, tampilannya tidak selalu memuaskan.
Walau berjalan di pengaturan maksimal pada PC, visualnya bisa terlihat muddy. Tekstur jarak jauh tampak low-res, karakter tidak setajam yang diharapkan, dan lighting kadang terlihat washed out.
Ini sayang banget, karena beberapa cutscene, efek visual, dan arahan seninya sebenarnya bagus. Tapi level design dan kualitas grafis secara keseluruhan membuat dunia ini tidak sekuat potensinya.
Ada momen saat game terlihat indah. Tapi ada juga banyak momen saat dunianya terasa seperti game last-gen yang terlalu kosong.
Ceritanya Lambat dan Emma Terasa Terlalu Datar
Cerita Beast of Reincarnation ingin terasa sunyi, berat, dan penuh kesedihan. Kadang berhasil. Ada beberapa momen emosional, terutama yang melibatkan Koo.
Tapi pacing-nya sangat lambat.
Cutscene bisa berjalan panjang, dialog terasa berputar-putar, dan Emma sebagai karakter utama terasa terlalu datar. Memang, cerita mengakui bahwa Emma punya alasan kenapa ia seperti itu. Tapi tetap saja, menonton karakter utama yang terlalu lifeless dalam cutscene panjang bisa terasa melelahkan.
Di game yang atmosfernya sudah suram, karakter utama yang terlalu hambar membuat pengalaman makin berat. Bukan berat karena emosional, tapi berat karena pelan dan kurang menarik.

Base Management Kurang Nendang
Emma dan rombongannya punya base berupa mechanical walker bergaya magitech atau Metal Gear-ish. Di sini pemain bisa melakukan upgrade, membuka akses ke peningkatan baru, serta mengelola makanan dan resource.
Ada karakter yang bisa memasak meal untuk memberi buff sebelum pemain kembali ke medan tempur.
Secara konsep, ini menarik. Tapi dalam praktiknya, sistem ini terasa kurang penting. Buff makanan tidak terasa cukup wajib, dan resource yang dicari di dunia tidak cukup menggoda.
Akhirnya, sistem ini terasa seperti cara game memaksa alasan untuk eksplorasi, tapi alasannya kurang kuat.
Mixed Bag Banget
Beast of Reincarnation adalah definisi mixed bag.
Ada bagian yang benar-benar keren. Combat berbasis parry enak. Koo adalah companion yang punya fungsi nyata. Skill tree lumayan dalam. Atmosfer dunianya unik. Musiknya mendukung vibe kesepian.
Tapi bagian lainnya terlalu hambar. Musuh repetitif. Boss kurang menggigit. Eksplorasi kosong. Visual teknis kurang tajam. Cerita lambat. Emma sulit dibuat menarik.
Game ini seperti punya 50% bahan yang kuat, tapi 50% sisanya menahan semuanya supaya tidak naik level.
Jadi, Worth It atau Tunggu Diskon?
Kalau kamu sangat tertarik dengan action RPG yang fokus pada parry, companion system, dan dunia post-apocalyptic Jepang, Beast of Reincarnation tetap layak dilirik.
Tapi untuk harga penuh, game ini agak sulit direkomendasikan.
Ini lebih cocok masuk kategori wait for sale. Saat harganya sudah turun, kekurangan seperti area kosong, musuh repetitif, dan pacing lambat mungkin lebih mudah dimaafkan. Apalagi kalau kamu memang mencari game action RPG yang beda dari biasanya.
Tapi kalau kamu berharap IP baru dari Game Freak ini langsung jadi masterpiece yang tidak terbantahkan, siap-siap menurunkan ekspektasi.

Kesimpulan
Beast of Reincarnation punya ide yang sangat menarik: Game Freak keluar dari bayang-bayang Pokémon dan mencoba membuat action RPG gelap tentang Emma dan Koo bertahan di dunia Jepang masa depan yang rusak.
Saat combat-nya klik, game ini bisa terasa keren banget. Parry, plant-based ability, command Koo, dan traversal berbasis vine memberi rasa yang cukup segar. Koo sendiri jadi salah satu bagian terbaik karena benar-benar terlibat dalam gameplay, bukan cuma teman jalan.
Tapi sayangnya, combat bagus saja tidak cukup. Enemy variety yang lemah, boss yang kurang memorable, eksplorasi kosong, visual teknis yang muddy, dan cerita yang terlalu plodding membuat Beast of Reincarnation sulit naik jadi game wajib main.
Ini bukan game buruk. Tapi juga bukan game yang langsung meledak sebagai IP baru kuat dari Game Freak.
Buat sekarang, Beast of Reincarnation paling pas dilihat sebagai game action RPG menarik yang punya banyak ide bagus, tapi lebih aman dibeli saat diskon. Kalau ada sekuel suatu hari nanti dan Game Freak bisa memperbaiki eksplorasi, pacing, serta variasi musuh, seri ini punya potensi besar.
Untuk saat ini? Emma dan Koo punya petualangan yang menarik, tapi belum cukup buas buat benar-benar meninggalkan bekas.
Related Articles

Moondrop Chu 3: IEM Murah Meriah dengan Driver Baru dan Shell Zinc-Alloy
Moondrop akhirnya meluncurkan Moondrop Chu 3, generasi terbaru dari seri Chu yang selama ini jadi salah satu nama paling populer di kelas IEM entry-le...

Keyboard Wireless SteelSeries Mahal Jadi Korban Baterai Bengkak
Keyboard wireless mekanikal memang terdengar enak banget. Bisa tetap dapat feel khas mechanical keyboard, tapi meja lebih rapi dan posisi lebih bebas ...

Harga GPU Naik Drastis di 2026 dan Bakal Tambah Parah?
Kabar soal harga GPU yang bakal naik lagi ternyata bukan cuma ancaman kosong. Di pasar Indonesia, harganya udah chaos.PC Partner, perusahaan di balik ...

Epomaker RT75: Keyboard Gaming Retro yang Punya Layar TFT Hotswap
Epomaker balik lagi dengan keyboard baru yang cukup unik. Namanya Epomaker RT75, keyboard mekanikal 75% bergaya retro yang membawa layar kecil, koneks...