
Semua Info yang Perlu Kamu Tahu Soal Zelda: Ocarina of Time Remake
Nintendo akhirnya membuka detail besar untuk The Legend of Zelda: Ocarina of Time versi Nintendo Switch 2. Setelah lama jadi bahan rumor, remake dari salah satu game paling legendaris sepanjang masa ini resmi dipamerkan lewat Zelda 40th Anniversary Direct.
Game ini dijadwalkan rilis pada 5 November 2026 secara eksklusif untuk Nintendo Switch 2. Nintendo juga menyebut remake ini sebagai interpretasi yang setia terhadap game original 1998, tapi dibangun ulang memakai teknologi modern.
Jadi ini bukan reboot liar yang mengubah Ocarina of Time jadi game open-world ala Breath of the Wild. Nintendo tampaknya ingin menjaga struktur klasiknya: petualangan terarah, dungeon, puzzle, Hyrule Field, Kokiri Forest, Navi, child Link, adult Link, dan semua rasa Zelda klasik yang bikin game ini jadi legenda.
Eksklusif Switch 2, Rilis November 2026
The Legend of Zelda: Ocarina of Time remake akan meluncur pada 5 November 2026 untuk Nintendo Switch 2. Tidak ada versi Nintendo Switch pertama, dan ini cukup masuk akal karena remake ini membawa visual overhaul besar serta beberapa fitur yang memanfaatkan hardware Switch 2.
Harga digitalnya dikonfirmasi $59.99, sementara versi fisik lebih mahal $10, berarti $69.99.
Dengan kurs sekitar Rp17.650 per dolar AS, estimasinya:
- Digital $59.99: sekitar Rp1,06 juta
- Physical $69.99: sekitar Rp1,24 juta
Angka rupiah ini cuma estimasi konversi, belum termasuk pajak, kurs kartu, distribusi, margin retailer, atau harga resmi Indonesia kalau Nintendo membawanya lewat jalur lokal.
Versi Fisik Punya First Print Spesial
Nintendo juga menyiapkan first print run untuk versi fisik dengan packaging commemorative. Cover art-nya memakai efek textured foil, jadi ini jelas mengincar fans lama dan kolektor.
Tapi seperti biasa, edisi first print hanya tersedia selama stok masih ada. Jadi buat fans Zelda garis keras, versi fisik ini kemungkinan bakal jadi incaran sejak awal.
Tetap Ocarina of Time, Bukan Breath of the Wild
Salah satu hal paling penting: remake ini tetap mempertahankan identitas Ocarina of Time.
Aonuma secara terbuka membedakan game ini dari Zelda modern seperti Breath of the Wild dan Tears of the Kingdom. Kalau Zelda modern memberi kebebasan besar untuk pergi ke mana saja, Ocarina of Time punya daya tarik berbeda: petualangan yang lebih terstruktur, progres dungeon yang jelas, dan rasa adventure klasik.
Buat pemain baru yang cuma kenal Zelda dari era open-world, ini mungkin akan terasa lebih “linear”. Tapi buat fans lama, justru itu bagian dari pesonanya.
Ocarina of Time bukan soal membuka map raksasa lalu bebas lompat ke mana saja. Ini soal perjalanan Link dari Kokiri Forest, masuk ke dungeon, memecahkan puzzle, bertemu suku Goron dan Zora, lalu melihat Hyrule berubah saat ia tumbuh menjadi adult Link.
Hyrule Dibangun Ulang, Tapi Geografinya Tetap Familiar
Remake ini tetap memakai setting kerajaan Hyrule dengan struktur lokasi klasik.
Link memulai perjalanan di Kokiri Forest, rumah para Kokiri dan Great Deku Tree. Dari sana, petualangan membuka jalan ke Hyrule Field, area hub besar yang menghubungkan banyak wilayah kerajaan. Death Mountain terlihat di kejauhan, sementara Hyrule Castle Town kembali jadi pusat sosial yang lebih ramai.
Karakter lama seperti Saria, Mido, dan Navi juga kembali. Navi tetap jadi fairy companion Link, tapi perannya diperluas sedikit. Saat sebelum bertarung, pemain bisa mendengarkan petunjuk dari Navi untuk mengetahui cara menghadapi musuh tertentu.

Free Camera, Akhirnya!
Salah satu upgrade quality-of-life terbesar adalah Free Camera dengan Right Stick.
Ini terdengar standar banget untuk gamer modern, tapi dulu di Nintendo 64, kontroler hanya punya satu analog stick. Jadi kamera yang bebas muter-muter kayak game modern memang belum jadi standar.
Dengan kamera yang bisa dikontrol penuh, cara membaca ruangan, melihat musuh, dan menikmati dunia Hyrule bakal terasa jauh lebih nyaman.
Buat pemain lama, ini bisa jadi perubahan kecil yang terasa besar. Buat pemain baru, ini membuat Ocarina of Time lebih gampang masuk tanpa terasa terlalu kaku seperti game 1998.
Link Sekarang Bisa Lompat Manual
Perubahan besar lain: Link sekarang bisa melompat dengan tombol.
Di game original, lompat terjadi otomatis saat Link mendekati tepian. Sistem itu ikonik, tapi juga terasa kuno untuk standar sekarang. Di remake Switch 2, jumping jadi manual. Pemain bisa mengatur lompatan sendiri, menghubungkan gap, dan melakukan traversal dengan kontrol yang lebih aktif.
Swimming juga kena sentuhan baru. Link bisa berenang lebih cepat dan menyelam saat melihat sesuatu di bawah permukaan air.
Roll Jadi Dash
Rolling tetap ada, tapi sekarang punya twist baru. Kalau tombol A ditahan, Link bisa mengubah roll menjadi dash untuk bergerak lebih cepat.
Ini terasa seperti cara Nintendo meresmikan kebiasaan lama pemain. Di versi original, banyak pemain sering melakukan roll terus-menerus untuk bergerak lebih cepat. Sekarang, konsep itu dibuat lebih natural sebagai sprint/dash modern.
Buat game dengan banyak eksplorasi, fitur ini pasti terasa membantu.
Z-Targeting Tetap Dipertahankan
Z-targeting tetap ada. Ini penting karena Ocarina of Time adalah game yang mempopulerkan sistem lock-on modern untuk action-adventure 3D.
Dengan Z-targeting, Link bisa mengunci musuh, mengatur posisi, dan bertarung lebih fokus. Sistem ini sudah jadi fondasi banyak game action modern.
Di remake ini, aksi terasa lebih snappy berkat kemampuan Switch 2. Item seperti Deku Nuts juga tetap bisa dipakai untuk stun musuh sebelum menyerang.
Untuk senjata jarak jauh seperti slingshot, remake ini mendukung motion control aiming, plus tombol targeting untuk snap-aim yang lebih cepat.
Hyrule Castle Town Jauh Lebih Hidup
Salah satu perubahan dunia yang paling menarik ada di Hyrule Castle Town.
Di versi original, area ini memakai fixed camera dan banyak bagian terasa seperti backdrop. Di remake, pemain bisa melihat sekitar dengan bebas, dan area yang dulu cuma terasa seperti latar kini dikembangkan jadi ruang eksplorasi.
Ada gang belakang, percakapan warga yang bisa didengar, mini-game di toko, dan detail sosial yang bikin kota terasa lebih hidup.
Ini upgrade yang sangat masuk akal. Ocarina of Time dulu sudah berhasil membuat Hyrule terasa luas lewat imajinasi pemain. Sekarang, Nintendo punya kesempatan membuat tempat-tempat itu benar-benar terasa ramai dan punya isi.
Waktu Terus Bergerak, Bahkan di Kota
Perubahan besar lain ada di sistem waktu. Di game original, waktu berhenti saat Link masuk ke kota. Di remake, day/night cycle terus berjalan di mana pun Link berada.
Ini bisa mengubah cara pemain merencanakan aktivitas. Karena event tertentu hanya muncul pada siang atau malam, pemain harus lebih sadar terhadap waktu.
Perubahan ini terdengar kecil, tapi efeknya bisa besar untuk flow eksplorasi. Hyrule terasa lebih seperti dunia hidup, bukan kumpulan area yang berhenti saat pemain masuk.
Threads of Time, Fitur Baru Buat Pantau Progress
Remake ini juga membawa fitur baru bernama Threads of Time. Fitur ini memungkinkan pemain mengecek progress cerita dan objective kapan saja. Bentuknya digambarkan seperti tapestry besar yang pelan-pelan terisi seiring perjalanan Link.
Ini terdengar seperti solusi modern untuk game klasik. Ocarina of Time punya struktur yang lebih terarah, tapi pemain baru tetap bisa lupa harus ke mana, apalagi kalau mainnya putus-putus.
Threads of Time bisa membantu pemain balik ke petualangan tanpa harus bingung, tapi tetap tidak mengubah game jadi terlalu “dituntun” seperti checklist modern.
Bisa Hum Lagu Ocarina ke Mikrofon Switch 2
Ini fitur paling Nintendo banget.
Di remake Ocarina of Time, pemain bisa bersenandung atau memainkan melodi ocarina di dekat mikrofon bawaan Switch 2. Kalau lagunya dikenali, Link akan memainkan lagu itu di dalam game. Nintendo juga menyebut fitur ini bisa merespons instrumen nyata.
Aonuma mendemonstrasikan Sun’s Song untuk mengubah malam menjadi siang, dan Epona’s Song untuk memanggil kuda.
Ini bukan fitur wajib buat semua orang, tapi vibes-nya keren. Ocarina of Time adalah game yang sangat lekat dengan musik. Jadi memakai suara asli pemain untuk mengaktifkan lagu terasa seperti cara modern yang tetap menghormati jiwa originalnya.
ZELDA NOTES Juga Ikut Masuk
Ocarina of Time remake juga mendukung ZELDA NOTES, companion service di Nintendo Switch App. Fitur ini sebelumnya juga mendukung Breath of the Wild dan Tears of the Kingdom.
Beberapa fitur yang disebut termasuk:
- Today’s Record untuk melihat log aktivitas harian dan statistik seperti musuh yang dikalahkan
- Gossip Quest untuk mencari lokasi memakai hint image di smartphone
- Play Ocarina sebagai ocarina virtual di layar sentuh perangkat mobile
- Ocarina of Time Quiz dengan lebih dari 2.000 pertanyaan
Integrasi seperti ini jelas bukan inti utama game, tapi bisa jadi bonus menarik buat fans yang ingin pengalaman Zelda lebih luas dari sekadar layar Switch 2.
Kesimpulan
The Legend of Zelda: Ocarina of Time remake untuk Switch 2 kelihatan seperti proyek nostalgia yang cukup hati-hati. Nintendo tidak mencoba mengubah game ini jadi Breath of the Wild kecil. Mereka tetap menjaga struktur klasiknya, tapi memberi upgrade besar di bagian visual, kamera, movement, kota, sistem waktu, voice acting, dan fitur modern.
Kamera bebas, jump manual, dash, swimming yang lebih enak, Hyrule Castle Town yang lebih hidup, day/night cycle yang terus berjalan, Threads of Time, dan fitur hum lagu lewat mikrofon Switch 2 membuat remake ini terasa modern tanpa kehilangan akar N64-nya.
Game ini rilis 5 November 2026 eksklusif untuk Nintendo Switch 2. Harga digitalnya $59.99 atau sekitar Rp1,06 juta, sementara versi fisik $69.99 atau sekitar Rp1,24 juta berdasarkan estimasi kurs saat ini.
Buat fans lama, ini bisa jadi alasan besar buat kembali ke Hyrule. Buat pemain baru, ini kesempatan paling ramah untuk merasakan kenapa Ocarina of Time disebut sebagai salah satu game paling penting sepanjang masa.
Related Articles

Razer Clio X: Speaker Wireless Tapi Bantal Kursi Gaming
Razer datang dengan aksesori audio gaming yang cukup unik di PAX West 2026. Namanya Razer Clio X, sebuah speaker cushion wireless yang dipasang di bag...

Liberty Walk x Original Konbini OK-1, Keyboard JDM dengan Bodi Aluminium dan VIA
Kolaborasi antara brand otomotif dengan peripheral gaming sebenarnya bukan hal baru. Namun, Liberty Walk x Original Konbini OK-1 punya pendekatan yang...

DLSS 5 Review: Visual Lebih Realistis, Tapi Performa Turun Drastis
DLSS selama ini identik dengan satu hal: performa. Entah lewat Super Resolution, Frame Generation, atau Multi Frame Generation, teknologi DLSS biasany...

Onimusha: Way of the Sword Review: Comeback Samurai dengan Perfect Combat?
Setelah hampir 20 tahun tidur panjang, Onimusha akhirnya balik lewat Onimusha: Way of the Sword. Buat fans era PlayStation 2, ini jelas momen besar. D...