
Square Enix Umumkan PHK Besar, Targetkan 70% Pekerjaan QA Digantikan AI di 2027
Square Enix lagi-lagi bikin berita yang kurang enak. Di tengah perubahan besar dalam strategi bisnisnya, perusahaan ini mengonfirmasi bahwa mereka akan melakukan PHK di kantor-kantor Barat—lebih dari 100 orang di Inggris dan jumlah yang belum diketahui di Amerika Serikat.
Dalam laporan IGN, Square Enix menyebut keputusan ini sebagai langkah “untuk memperkuat struktur pengembangan global dan strategi marketing terpadu.” Bahasa halus dari “kita memangkas banyak posisi sekarang supaya tumbuhnya nanti.”
Dari sisi angka, diperkirakan sekitar 137 karyawan di Inggris terdampak. Untuk AS? Tidak ada data jelas, tapi beberapa sumber menyebut jumlahnya juga “tidak kecil.”
Jejak Panjang Square Enix di Barat Mulai Menyusut
Untuk konteks: Square Enix sudah berkali-kali mengurangi operasi mereka di wilayah Barat. Banyak studio yang dulu berada di bawah bendera Square Enix—seperti Crystal Dynamics, Eidos Montréal, dan Square Enix Montréal—sudah dijual ke Embracer Group tahun lalu. Setelah itu pun masih ada PHK tambahan.
Jadi pengurangan kali ini bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Ini bagian dari restrukturisasi agresif yang mereka umumkan tahun lalu: fokus ke rilis multiplatform, eksploitasi IP sendiri, dan memaksimalkan merek besar seperti Final Fantasy dan Dragon Quest demi mendorong “pertumbuhan jangka panjang.”
Rencana Baru: 70% QA Mau Digantikan AI
Bagian yang paling bikin kening berkerut justru datang dari dokumen rencana bisnis terbaru mereka, yang mencakup target sampai Q3 2027. Di dalamnya, Square Enix menegaskan kembali ambisi mereka untuk memakai AI dan teknologi otomatisasi secara masif.
Target barunya cukup gamblang:
“Mengotomatisasi 70% pekerjaan QA dan debugging pada akhir 2027.”
Artinya sebagian besar proses uji kualitas—yang selama ini dilakukan manusia rutin dan teliti—akan dialihkan ke sistem otomatis dan AI generatif. Square Enix mengklaim ini akan meningkatkan efisiensi dan memberi “keunggulan kompetitif” dalam pengembangan game.
Buat industri, khususnya QA, ini bukan kabar yang menenangkan.
Dampak ke Industri: QA Selalu Jadi Garda Depan Isu Ketimpangan
Keputusan Square Enix memotong staf sambil memperbesar peran AI muncul di saat industri game masih ramai dengan PHK, restrukturisasi, merger, dan studio yang tutup. Di tengah kekacauan itu, posisi QA adalah salah satu yang paling sering jadi korban.
Ironisnya, unit QA juga termasuk yang paling aktif mendorong unionisasi (serikat pekerja) di Barat. QA Raven Software, Blizzard Albany, dan ZeniMax semuanya memulai gelombang serikat di bawah payung Microsoft dan Activision-Blizzard. Sekarang dengan AI yang masuk semakin dalam, kekhawatiran soal masa depan pekerjaan ini makin besar.
Square Enix Masih Raksasa, Tapi Sedang Mencari “Wajah Baru”
Dengan portfolio seperti Final Fantasy, Kingdom Hearts, Dragon Quest, dan jajaran IP raksasa lainnya, Square Enix masih menjadi salah satu publisher paling berpengaruh di dunia. Tapi dalam beberapa tahun terakhir, performa keuangan mereka tidak stabil: beberapa judul besar gagal memenuhi target, proyek-proyek baru dibatalkan, dan strategi global mereka dianggap tidak fokus.
Karena itu, restrukturisasi ini sebenarnya sudah terlihat arahnya. Perusahaan ingin kembali menekankan Jepang sebagai pusat kreativitas dan operasi, sementara kantor Barat lebih diarahkan ke fungsi marketing dan support—bukan produksi penuh.
Arah Baru yang Penuh Risiko
Secara teori, menggunakan AI untuk mempercepat QA bisa menghemat waktu dan biaya. Tapi kenyataannya:
- Proses QA butuh banyak intuisi dan edge-case yang hanya bisa ditemukan manusia
- AI generatif masih belum stabil untuk pengujian kompleks
- Mengurangi tenaga QA bisa meningkatkan risiko bug dan masalah teknis
- Dampaknya ke tenaga kerja dan moral industri tidak bisa dianggap kecil
Kalau langkah ini berhasil, Square Enix bisa mempercepat produksi dan menekan biaya. Tapi kalau gagal? Mereka berisiko menambah image buruk soal kualitas, terutama setelah beberapa rilis yang dianggap kurang matang dalam beberapa tahun terakhir.
Kesimpulan: Keputusan Berani yang Bisa Jadi Langkah Maju… atau Bumerang
PHK di Inggris dan AS sudah menjadi bagian dari pola besar Square Enix dalam beberapa tahun terakhir—fokus kembali ke Jepang, mengurangi biaya, dan mengarahkan ulang strategi global. Tapi target untuk mengganti 70% pekerjaan QA dengan AI adalah langkah yang jauh lebih kontroversial, dan bisa berdampak besar pada masa depan industri.
Apakah ini solusi jangka panjang?
Atau langkah panik perusahaan yang sedang mencoba “menyelamatkan” pertumbuhan?
Waktu yang akan menjawab. Yang jelas, keputusan Square Enix ini bisa jadi tonggak baru dalam hubungan antara industri game dan AI—baik ke arah kemajuan, maupun ke arah yang lebih suram.
Related Articles

IPS vs TN vs VA vs OLED: Kenapa Panel Monitor Itu Penting Banget?
Kalau kamu pernah mau beli monitor, kemungkinan besar kamu pernah ketemu istilah-istilah kayak IPS, TN, VA, OLED, QD-OLED, atau bahkan Mini-LED.Masala...

KeyBoy Advance: Keyboard Meka yang Gayanya Kayak Gameboy Advance
Buat fans keyboard custom yang juga punya nostalgia kuat ke era handheld Nintendo, ini barang yang sangat spesifik tapi menarik banget. KeyBoy Advance...

Xbox PHK 3.200 Karyawan, Empat Studio Dilepas dari Microsoft
Gelombang PHK besar kembali menghantam Xbox. Kali ini, sekitar 3.200 karyawan bakal kehilangan pekerjaan, dengan 1.600 orang terkena PHK sekarang dan ...

Epomaker Nex Pro: Mouse Gaming 65g yang Pakai Dock Magnetic
Epomaker resmi ngerilis Nex Pro, mouse gaming wireless ergonomis buat pengguna tangan kanan yang datang dengan harga $79,99 atau sekitar Rp1,4 ju...