Steam Machine Banyak Dipuji, Emang Layak Ditungguin?

Steam Machine Banyak Dipuji, Emang Layak Ditungguin?

Steam Machine akhirnya comeback setelah terakhir kali muncul bareng Alienware dan Lenovo di era 2010-an. Dulu konsep “konsol rasa PC” ini gagal total gara-gara SteamOS masih bayi dan banyak game yang nggak kompatibel. Tapi setelah Steam Deck sukses besar sejak 2022, jalan buat Steam Machine generasi baru jadi lebih kebuka.

Bedanya, kali ini Valve nggak gandeng produsen lain—mereka bikin satu Steam Machine resmi versi mereka sendiri. Targetnya simpel tapi ambisius: bisa mainin semua game zaman sekarang di 4K dengan bantuan FSR 3. Kuncinya ada di GPU AMD RDNA 3 yang performanya kira-kira setara RTX 4060 atau RX 7600 versi mobile. Buat yang pengen “max setting 4K no compromise”, ini mungkin kurang greget. Tapi kalau harganya masuk akal, spek itu udah lebih dari cukup buat mayoritas gamer… walaupun Valve belum buka harga sama sekali.

 

SteamOS Zaman Sekarang Udah Beda Banget

Kalau dilihat sekilas, Steam Machine baru ini mirip generasi lamanya: PC mungil dengan spek menengah ke bawah dan pakai SteamOS berbasis Linux. Tapi ekosistemnya udah berubah jauh. Dulu Linux miskin kompatibilitas, sekarang ada Proton—lapisan yang “menerjemahkan” game Windows biar bisa jalan di SteamOS.

Kalau kamu pernah pakai Steam Deck, pasti paham: mayoritas game Steam jalan mulus, bahkan kadang lebih mulus dari Windows. Ada beberapa pengecualian kayak game multiplayer yang anti-cheat-nya galak (Battlefield 6, Destiny 2), tapi secara umum: kalau ada di Steam, besar kemungkinan bisa dimainkan.

Ketika dites langsung sama beberapa media, dari Cyberpunk 2077 sampai Silent Hill F, semuanya jalan oke, walau Silent Hill sempat ngos-ngosan. Mungkin nanti kalo udah beneran rilis, kita bisa cari-cari review yang lebih lengkap untuk performa gaming mesin ini.

Valve juga bakal bawa sistem “Verified” ala Steam Deck ke Steam Machine dan Steam Frame (VR headset baru mereka). Jadi nanti ada tiga badge berbeda tergantung perangkatnya. Belum tahu bakal seberapa luas, tapi sistem Verified selama ini terbukti sangat berguna.

 

Desainnya Bukan Kayak PC — Lebih Mirip Konsol Mini

Steam Machine ini bentuknya kotak kecil warna hitam dengan strip RGB tipis di depan buat indikator. Dan kecilnya beneran kecil: sekitar 15–18 cm per sisi. Jauh lebih kecil dari Xbox Series X—malah mirip GameCube.

Panel depan bisa dicopot karena pakai magnet dan bisa diganti-ganti. Valve belum bilang apakah mereka jual panel alternatif, tapi mereka bakal rilis file 3D printing-nya, jadi kamu bisa bikin sendiri atau beli dari pihak ketiga.

Port-nya lengkap banget:
Depan: 2x USB-A + microSD
Belakang: DisplayPort, HDMI, 2x USB-A, 1x USB-C, power

Yang keren, adaptor power-nya internal, jadi nggak ada adaptor kayak batu bata yang makan tempat di rak TV.

Bagian dalamnya juga menarik. Mayoritas ruang diisi heatsink raksasa dengan satu kipas exhaust di belakang. Udara ditarik dari depan & bawah lalu dibuang ke belakang. GPU-nya punya TDP 110–130W, jadi solusi pendinginnya memang harus serius.

Storage ada dua opsi: 512GB atau 2TB SSD NVMe 2230. Tapi slot-nya muat sampai NVMe 2280, jadi lebih gampang dan murah kalau mau upgrade storage. Sayangnya, komponen lain disolder, jadi nggak bisa upgrade RAM atau CPU/GPU.

Buat pengguna yang cuma pengen “colok dan main”, ini bukan masalah besar. Tapi buat PC master race garis keras, ya… sedikit mengecewakan.

Steam Machine bisa dibeli bundling atau tanpa controller. Enaknya, receiver wireless Steam Controller sudah tertanam di dalam mesin, jadi port USB nggak kepake buat dongle lagi. Controller yang dibundling juga tetap dapat dongle tambahan, jadi bisa dipakai di PC lain atau sekadar dijadiin charger wireless di meja.

RGB lightbar di bawah panel depan juga bisa diatur. Ada 13 zona lighting. Valve bilang ini lebih ke indikator status, tapi tetap bisa di-custom. Kita lihat nanti software-nya kayak apa.

 

Performa: Cukup Nendang, Tapi Tetap Perlu Tweak

Chip custom AMD di dalam Steam Machine pakai GPU RDNA 3 dengan 28 CU (mirip RX 7600 mobile) dan CPU Zen 4 6-core 30W.

IGN sempet nyoba main Cyberpunk 2077 di 4K Ultra + FSR Performance, dan gameplay-nya smooth. Ray tracing hidup pun masih terasa stabil—walau nggak kelihatan frame counter-nya.

Silent Hill F beda cerita. Di 4K Ultra + TSR, game-nya ngos-ngosan di 15–20 fps. Setelah diturunin ke Medium 1440p + FSR, baru enak. Ini mengingatkan kita bahwa Steam Machine tetap PC: kadang mesti utak-atik setting biar optimal.

Valve bilang target mereka adalah “semua game zaman sekarang bisa 4K dengan FSR”. Tapi realistisnya, banyak game (apalagi UE5) bakal butuh setting menengah.

Kalau developer nantinya otomatis nyetel preset berdasarkan Steam Machine (kayak di Steam Deck), pengalaman user bakal jauh lebih effortless.

 

Kenapa Ada Steam Machine Kalau Udah Ada Steam Deck?

Menurut Valve, sekitar 20% pengguna Steam Deck colok handheld-nya ke TV via dock. Angka ini sebenarnya lumayan besar untuk produk generasi pertama.

Masalahnya, Steam Deck yang cukup buat layar 800p, performanya drop parah begitu dipasangin ke TV 4K.

Di sinilah Steam Machine masuk.

Ini PC ruang tamu yang bisa:
- main di 4K (di-upscale)
- pakai SteamOS
- main game library yang sama dengan Deck
- performa sampai 6× lebih kuat dari Steam Deck

Jadi buat orang yang baru kenal PC gaming lewat Steam Deck, Steam Machine adalah langkah selanjutnya yang natural.

 

Harga: Pertanyaan Besar yang Belum Ada Jawabannya

Kita hidup di 2025—tahun ketika semuanya lebih mahal.

Contohnya:

  • ROG Ally X makin pricey
  • RTX 5080 debut dengan harga bikin kaget
  • Switch 2 lebih mahal 150 dolar dari pendahulunya
  • PS5 & Xbox Series X juga naik harga

Valve masih tutup mulut soal harga Steam Machine. Mereka cuma bilang akan “kompetitif dibanding PC dengan spesifikasi serupa”.

Karena GPU dan CPU yang dipakai bukan generasi terbaru, peluang harganya masuk akal itu ada. Sayangnya, karena kita tinggal di Indonesia dan belum pernah ada ceritanya Valve punya distributor lokal, kalaupun nanti ada di Indonesia, kemungkinan besar itu barang PI yang harganya suka-sukanya si importirnya. Jadi ya, jangan banyak ngarep aja. 

 

Kesimpulan Singkat

Steam Machine versi baru ini kelihatan menjanjikan: desain ringkas, performa lumayan, kompatibilitas game luas, dan vibe “colok-main” ala konsol tapi dengan fleksibilitas PC.

Meski bukan buat PC enthusiast garis keras, Steam Machine bisa jadi opsi ideal buat gamer konsol yang lagi pengen naik kelas ke PC tanpa ribet merakit dan setting macem-macem.

Sayangnya, karena kemungkinan besar Valve ga akan punya distributor resmi di Indonesia, harga atau ketersediaan barangnya kemungkinan akan jadi masalah. Yang akhirnya, mungkin bikin jadi barangnya ga ‘worth’ dibanding rakit PC kecil sendiri – ap[alagi rakit PC sendiri juga udah pasti bikin jeroan hardware-nya bisa dituker-tuker atau upgrade sewaktu-waktu.

November 14, 2025
Share on:

Related Articles

IPS vs TN vs VA vs OLED: Kenapa Panel Monitor Itu Penting Banget?

IPS vs TN vs VA vs OLED: Kenapa Panel Monitor Itu Penting Banget?

Kalau kamu pernah mau beli monitor, kemungkinan besar kamu pernah ketemu istilah-istilah kayak IPS, TN, VA, OLED, QD-OLED, atau bahkan Mini-LED.Masala...

July 9, 2026
KeyBoy Advance: Keyboard Meka yang Gayanya Kayak Gameboy Advance

KeyBoy Advance: Keyboard Meka yang Gayanya Kayak Gameboy Advance

Buat fans keyboard custom yang juga punya nostalgia kuat ke era handheld Nintendo, ini barang yang sangat spesifik tapi menarik banget. KeyBoy Advance...

July 8, 2026
Xbox PHK 3.200 Karyawan, Empat Studio Dilepas dari Microsoft

Xbox PHK 3.200 Karyawan, Empat Studio Dilepas dari Microsoft

Gelombang PHK besar kembali menghantam Xbox. Kali ini, sekitar 3.200 karyawan bakal kehilangan pekerjaan, dengan 1.600 orang terkena PHK sekarang dan ...

July 7, 2026
Epomaker Nex Pro: Mouse Gaming 65g yang Pakai Dock Magnetic

Epomaker Nex Pro: Mouse Gaming 65g yang Pakai Dock Magnetic

Epomaker resmi ngerilis Nex Pro, mouse gaming wireless ergonomis buat pengguna tangan kanan yang datang dengan harga $79,99 atau sekitar Rp1,4 ju...

July 6, 2026