
Xbox PHK 3.200 Karyawan, Empat Studio Dilepas dari Microsoft
Gelombang PHK besar kembali menghantam Xbox. Kali ini, sekitar 3.200 karyawan bakal kehilangan pekerjaan, dengan 1.600 orang terkena PHK sekarang dan 1.600 lainnya menyusul sepanjang tahun fiskal perusahaan.
Bukan cuma tenaga kerja yang dipangkas. Empat studio besar juga bakal keluar dari keluarga Xbox, yaitu:
- Compulsion Games
- Double Fine
- Ninja Theory
- Undead Labs
Kabar baiknya, keempat studio itu ga langsung ditutup. Tapi perubahan besar ini tetap nunjukin kalau kondisi bisnis Xbox lagi jauh dari sehat.
3.200 Orang Kehilangan Pekerjaan
Menurut pengumuman CEO Xbox, Asha Sharma, separuh dari total PHK dilakukan sekarang, sementara sisanya bakal terjadi bertahap sepanjang tahun fiskal.
Selain itu, pengurangan karyawan juga terjadi di berbagai unit lain, termasuk:
- Activision
- Bethesda dan ZeniMax
- Blizzard
- King
- Mojang
- Xbox Game Studios
Sharma menyebut proyek yang sedang berjalan ga akan dibatalkan. Meski begitu, PHK dalam skala sebesar ini hampir pasti berdampak ke ritme produksi, beban kerja tim, dan rencana jangka panjang.

Double Fine dan Compulsion Games Balik Independen
Compulsion Games dan Double Fine bakal kembali menjadi studio independen.
Keduanya disebut bakal pergi sambil membawa:
- Hak kekayaan intelektual
- Katalog game
- Pendanaan awal buat proyek berikutnya
Ini setidaknya memberi mereka kesempatan buat melanjutkan hidup tanpa harus dibubarkan.
Double Fine dikenal lewat game seperti Psychonauts, sementara Compulsion Games mengembangkan We Happy Few dan South of Midnight. Keluar dari Microsoft bisa memberi mereka kebebasan lebih besar, tapi juga berarti kehilangan perlindungan finansial dari perusahaan raksasa.
Independen lagi memang terdengar romantis. Masalahnya, bikin game sekarang mahal banget.

Ninja Theory dan Undead Labs Dijual
Nasib berbeda dialami Ninja Theory dan Undead Labs.
Kedua studio itu bakal dijual ke pemilik baru yang identitasnya belum diumumkan.
Ninja Theory dikenal lewat Hellblade, sementara Undead Labs adalah studio di balik State of Decay. Keduanya punya IP yang cukup kuat dan fanbase sendiri, jadi kemungkinan masih ada perusahaan lain yang tertarik mengambil alih.
Tapi selama pemilik barunya belum terungkap, masa depan kedua studio masih penuh tanda tanya.
Apakah mereka bakal tetap mempertahankan tim, IP, dan arah kreatif lama? Belum ada jawaban jelas.
Nasib Arkane Lebih Mengkhawatirkan

Bagian paling suram datang dari Arkane.
Manajemen disebut mulai melakukan konsultasi wajib dengan Works Council buat meninjau “opsi strategis”. Bahasa korporat kayak gini biasanya ga pernah bikin tenang.
Di Prancis dan beberapa negara Uni Eropa, konsultasi dengan perwakilan pekerja memang wajib dilakukan sebelum proses PHK atau restrukturisasi besar.
Belum ada detail soal apa yang bakal terjadi pada Arkane, tapi situasinya jelas lebih mengkhawatirkan dibanding empat studio lain.
Yang bikin makin bikin deg-degan, ga ada penyebutan soal game Blade yang sedang mereka kerjakan.
Proyek Katanya Ga Ada yang Dibatalkan
Asha Sharma menegaskan kalau proyek aktif ga akan dibatalkan.
Secara teori, ini berarti game dari Activision, Bethesda, Blizzard, Mojang, dan studio Xbox lain tetap lanjut.
Tapi dalam praktiknya, memotong ribuan orang tanpa mengganggu produksi terasa sulit dipercaya sepenuhnya.
Tim yang lebih kecil berarti:
- Beban kerja lebih berat
- Jadwal bisa molor
- Scope game bisa dipangkas
- Quality assurance berkurang
- Dukungan pascarilis bisa melemah
Jadi walau gamenya ga dibatalkan, bentuk akhirnya bisa saja berubah.

Mojang dan King Langsung di Bawah CEO Xbox
Ada juga perubahan struktur organisasi.
Mojang dan King sekarang bakal melapor langsung ke Asha Sharma.
Mojang adalah rumahnya Minecraft, sementara King adalah raksasa mobile di balik Candy Crush. Dua perusahaan ini termasuk mesin uang paling kuat di bawah Microsoft Gaming.
Keputusan menaruh mereka langsung di bawah CEO bisa jadi tanda kalau Xbox mau lebih fokus ke bisnis yang stabil, punya pemain besar, dan menghasilkan uang rutin.
Minecraft dan Candy Crush jelas jauh lebih aman daripada game single-player mahal yang butuh waktu lima sampai tujuh tahun buat selesai.
“Bisnis Kami Saat Ini Ga Sehat”
Pernyataan paling blak-blakan dari Sharma adalah pengakuan bahwa bisnis Xbox saat ini “tidak sehat”.
Kalimat itu datang hampir tepat setahun setelah Phil Spencer, pendahulunya, bilang kalau platform, hardware, dan roadmap game Xbox belum pernah sekuat itu.
Ironisnya, saat itu Spencer juga mengumumkan PHK besar pada 2025.
Sekarang, narasinya berubah total. Dari “semuanya kuat” menjadi “bisnisnya ga sehat”.
Buat karyawan dan fans, perubahan nada ini jelas bikin geleng-geleng.
Strategi Game Pass Dianggap Gagal Tumbuh Sesuai Harapan
Sharma juga secara terbuka menjauh dari strategi lama Xbox yang terlalu fokus ke:
- Game Pass
- Rilis multiplatform
- Ekspansi cepat
Menurutnya, strategi itu memang menciptakan nilai, tapi pertumbuhannya ga sesuai ekspektasi.
Ini penting karena Game Pass selama bertahun-tahun diposisikan sebagai pusat masa depan Xbox. Microsoft membeli banyak studio, menggelontorkan uang besar, dan memasukkan game baru ke layanan berlangganan sejak hari pertama.
Masalahnya, pertumbuhan subscriber tampaknya ga cukup cepat buat mengimbangi biaya produksi, akuisisi studio, dan operasional.
Game Pass memang enak buat pemain. Bayar bulanan, dapat banyak game.
Tapi dari sisi bisnis, bikin puluhan game mahal lalu memasukkannya ke layanan subscription ternyata bukan cheat code tanpa risiko.

Strategi Multiplatform Juga Dipertanyakan
Xbox belakangan makin agresif membawa game mereka ke platform lain.
Tujuannya jelas: menjangkau lebih banyak pemain dan meningkatkan penjualan.
Tapi menurut pernyataan baru ini, strategi tersebut juga belum tumbuh secepat yang diharapkan.
Ini bikin posisi Xbox semakin aneh.
Kalau game eksklusif dikurangi, konsol kehilangan daya tarik. Kalau semua game dirilis di mana-mana, pemain makin ga punya alasan beli hardware Xbox.
Xbox mau jadi publisher besar, penyedia subscription, pembuat hardware, dan platform sekaligus. Masalahnya, semua arah itu belum tentu bisa jalan bareng dengan mulus.
Empat Studio Selamat, Tapi Tetap Bukan Kabar Baik
Fakta bahwa Compulsion, Double Fine, Ninja Theory, dan Undead Labs ga ditutup memang jadi satu-satunya sisi positif.
Setidaknya tim dan IP mereka masih punya peluang hidup.
Tapi pelepasan studio tetap nunjukin kalau Microsoft sedang mengecilkan ambisi gaming-nya. Setelah bertahun-tahun membeli studio, sekarang mereka justru mulai melepas beberapa aset kreatif.
Ini terasa seperti fase bersih-bersih setelah ekspansi besar yang hasilnya ga sesuai rencana.
Xbox Masuk Fase Krisis Baru
PHK 3.200 karyawan bukan sekadar restrukturisasi kecil. Ini tanda bahwa strategi Xbox selama beberapa tahun terakhir sedang dievaluasi besar-besaran.
Game Pass ga tumbuh sesuai harapan. Strategi multiplatform belum ngasih hasil yang diinginkan. Empat studio dilepas. Arkane menghadapi masa depan yang ga jelas. Unit besar seperti Activision, Bethesda, Blizzard, King, dan Mojang ikut terkena pengurangan.
Kabar bahwa ga ada studio yang langsung ditutup memang sedikit melegakan. Tapi buat ribuan orang yang kehilangan pekerjaan, itu jelas ga cukup.
Xbox selama ini sering bicara soal masa depan gaming. Sekarang, tantangan terbesarnya bukan bikin pemain percaya pada roadmap baru, tapi meyakinkan semua orang bahwa bisnis ini masih punya arah yang jelas.
Karena kalau 3.200 orang harus pergi demi membuat Xbox “sehat” lagi, berarti penyakitnya sudah jauh lebih parah dari yang selama ini terlihat.
Related Articles

Epomaker Nex Pro: Mouse Gaming 65g yang Pakai Dock Magnetic
Epomaker resmi ngerilis Nex Pro, mouse gaming wireless ergonomis buat pengguna tangan kanan yang datang dengan harga $79,99 atau sekitar Rp1,4 ju...

Marvel Tokon Diblokir di 132 Negara? Kok Bisa?
Kabar kurang enak datang buat pemain PC yang sudah nunggu Marvel Tokon. Berdasarkan temuan di SteamDB, versi PC game fighting Marvel itu kabarnya dibl...

Internet Ledek Sony Soal Penghentian 'Kaset' PS
Keputusan Sony buat menghentikan produksi game PlayStation fisik mulai 2028 langsung memicu reaksi besar dari gamer, kolektor, retailer, sampai brand ...

Edifier G5 MAX: Headset Gaming yang Baterenya Tahan 300 jam!
Edifier resmi ngenalin HECATE G5 MAX, headset gaming wireless baru yang datang dengan spesifikasi lumayan brutal.Ada driver 53mm berlapis titanium, TH...